Tips singkat
- Mulai dari yang kecil banget: tiga tarikan napas pelan.
- Bangun dan tidur di jam yang sama.
- Jangan pernah bolos dua hari berturut-turut.
Kebanyakan rutinitas tenang gagal di hari Selasa biasa.
Bukan karena orangnya malas. Tapi karena ia membangun sesuatu yang cuma jalan di hari yang baik. Pagi lima langkah, menulis jurnal, mandi air dingin, daftar syukur, aplikasi meditasi, jalan kaki. Semua itu bertahan kira-kira seminggu. Lalu seorang anak bangun terlalu pagi, atau pekerjaan molor, atau kamu tidur kurang nyenyak, dan seluruh menara itu runtuh. Dan pelajaran yang kamu ambil dari situ bukan “rencanaku terlalu besar.” Tapi “aku memang tidak bisa konsisten dengan apa pun.” Yang justru kebalikan dari yang perlu kamu pelajari.
Jadi mari kita bangun rutinitas yang berbeda. Lebih kecil. Lebih kokoh. Jenis yang dirancang untuk bertahan di hari-hari saat kamu paling malas melakukannya, karena justru hari-hari itulah ia ada.
Kita akan bicara tentang apa yang dilakukan sebuah rutinitas untuk sistem sarafmu, kenapa otakmu membuat sebagian perilaku jadi otomatis dan sebagian lagi tidak, lalu cara menyusun beberapa jangkar yang bisa kamu pertahankan. Tanpa perlu aplikasi. Tanpa perlu bangun jam 5 pagi.
Kenapa rutinitas menenangkanmu sejak awal
Coba pikirkan berapa banyak hal di harimu yang harus diputuskan oleh pikiranmu. Mau makan apa, kapan mulai, apa yang dikerjakan berikutnya, apakah waktumu cukup, apakah kamu sudah tertinggal. Setiap keputusan kecil adalah pajak kecil. Menjelang sore, pajak itu menumpuk, dan kesabaran serta penilaianmu jadi lebih tipis dibanding saat sarapan. Bukan karena ada yang salah. Cuma karena terkurasnya tenaga pelan-pelan akibat memikirkan semua hal sambil jalan.
Sebuah rutinitas membayar pajak itu di muka. Ketika sebagian bagian harimu sudah diputuskan, kamu berhenti menghabiskan tenaga untuk memutuskannya ulang. Kopi, lalu sepuluh menit di luar. Makan siang, lalu jalan kaki sebentar. Ponsel masuk ke dapur jam sembilan. Hal-hal ini sudah beres, jadi nyaris tak menguras apa-apa, dan yang dibebaskannya adalah perhatian yang tadinya habis untuk mengurus hal teknis.
Ada lapisan fisik juga. Tubuhmu berjalan dengan jam internal sekitar 24 jam, dan ia suka tahu apa yang akan datang. Cleveland Clinic mencatat bahwa terang dan gelap punya pengaruh paling besar pada jam ini, dan bahwa jadwal yang konsisten dengan waktu tidur dan bangun yang stabil membuatnya berjalan sebagaimana mestinya. Saat hari-harimu punya bentuk yang bisa ditebak, tubuhmu bisa bersiap untuk tidur, untuk lapar, untuk fokus, alih-alih tertangkap lengah. Hal yang bisa ditebak itu bukan membosankan. Bagi sistem saraf, hal yang bisa ditebak adalah rasa aman. Itu sinyal yang berkata bahwa lingkungan ini cukup stabil untuk dijadikan tempat bersantai.
Penelitiannya cukup gamblang. Mayo Clinic, dalam merangkum manfaat rutinitas bagi kesehatan mental, menunjukkan bahwa orang dengan jadwal makan, tidur, dan kontak sosial yang teratur cenderung melaporkan kesejahteraan yang lebih tinggi, sementara orang yang polanya berantakan cenderung melaporkan kecemasan yang lebih banyak, suasana hati yang lebih murung, dan tidur yang lebih buruk. Rutinitas itu sendiri menjadi semacam penyangga di latar belakang, menahan banyak hal agar kamu tak perlu melakukannya sendiri.
Otakmu ingin membuat ini otomatis (dan kamu bisa memanfaatkannya)
Inilah bagian yang semestinya memberimu harapan.
Saat pertama kali melakukan sesuatu yang baru, otakmu bekerja keras. Bagian pikiranmu yang berpikir dan merencanakan terlibat penuh, menimbang setiap langkah. Itu butuh usaha, dan usaha bisa habis. Tapi ketika kamu mengulang tindakan yang sama dalam situasi yang sama cukup sering, ada yang berubah. Otak menyerahkan tugas itu ke sistem yang lebih dalam dan lebih otomatis, sistem yang sama yang membuatmu bisa menyetir di rute yang kamu hafal sambil pikiranmu melayang ke mana-mana. Perilaku itu berhenti memerlukan keputusan. Ia mulai terjadi begitu saja.
Inilah sebenarnya apa itu kebiasaan. Sebuah tinjauan di jurnal Royal College of General Practitioners menjelaskannya dengan rapi: sebuah kebiasaan terbentuk ketika kamu mengulang tindakan tertentu dalam konteks yang konsisten, seperti “setelah sarapan” atau “saat aku sampai di rumah,” sampai situasinya sendiri mulai memicu perilaku itu. Pemicunya yang mengingat untukmu. Begitu kaitan itu kuat, kamu jauh lebih sedikit bersandar pada motivasi, dan itu bagus, karena motivasi justru hal yang lenyap di hari yang berat.
Lalu berapa lama itu butuh waktu? Kurangi mitos, perbanyak kejujuran. Sebuah studi terkenal dari University College London mengikuti orang-orang yang membangun kebiasaan sehari-hari dan menemukan bahwa rata-rata butuh sekitar 66 hari agar sebuah tindakan terasa otomatis, dengan rentang yang lebar di balik angka itu, dari sekitar 18 hari untuk hal yang mudah sampai jauh lebih lama untuk hal yang berat. Angka pastinya tidak sepenting dua hal yang ia beri tahu kita. Pertama, ini proses yang membara pelan, bukan lari sprint seminggu, jadi sabarlah pada dirimu. Kedua, dan ini temuan paling lembut dari seluruh studi itu, melewatkan satu hari saja tidak merusak prosesnya. Satu hari yang terlewat bukan kekambuhan. Itu cuma satu hari. Kamu lanjutkan lagi besok dan kebiasaan itu tetap terbentuk.
Cara membangun rutinitas yang bertahan
Lupakan pagi yang estetik. Kita mengincar sesuatu yang lebih sederhana dan jauh lebih sulit dipatahkan. Beberapa prinsip dulu, lalu langkah-langkah nyatanya.
Mulai dari yang kecil sampai terasa berlebihan
Lebih kecil daripada yang terasa pantas dilakukan. Bukan dua puluh menit meditasi, tapi tiga tarikan napas pelan. Bukan lari, tapi memakai sepatu dan melangkah ke luar. Bukan menulis jurnal, tapi menulis satu kalimat. Inti dari memulai sekecil ini bukan aktivitasnya. Tapi pengulangannya. Kamu sedang mengajari otakmu sebuah pola, dan pola yang bisa kamu lakukan di hari terburukmu nilainya sepuluh kali pola yang cuma bisa kamu lakukan di hari terbaikmu. Kamu selalu bisa melakukan lebih banyak begitu kamu sudah berdiri di ambang pintu. Bagian yang sulit adalah sampai ke ambang pintu itu.
Tautkan ke sesuatu yang sudah kamu lakukan
Jangan mencoba mengingat kebiasaan barumu dari ruang kosong. Ikatkan ke sesuatu yang memang sudah terjadi setiap hari, supaya tindakan lama menjadi pemicu bagi yang baru. Ini trik paling bisa diandalkan yang ada, dan penelitian mendukungnya. Beberapa contoh:
- Setelah aku menuang kopi paginya, aku berdiri di dekat jendela dan menarik napas pelan tiga kali.
- Saat aku menutup laptop untuk hari itu, aku menuliskan satu hal yang berjalan baik.
- Sebelum naik ke tempat tidur, aku menaruh ponsel di lemari laci, di sisi seberang kamar.
- Setelah makan siang, aku jalan kaki ke ujung blok lalu kembali.
Perhatikan bentuknya: hal yang sudah ada, lalu hal yang baru. Hal yang sudah ada itulah yang memikul tugas berat mengingatkanmu.
Pilih jangkar yang benar-benar menenangkanmu
Rutinitas tenang bukan rutinitas produktivitas. Tujuannya adalah tingkat stres dasar yang lebih rendah, bukan daftar tugas yang lebih panjang. Condonglah ke hal-hal yang menenangkan sistemmu. Yang ini cenderung paling bisa diandalkan:
- Waktu tidur dan bangun yang stabil. Ini satu-satunya jangkar paling bernilai, sekaligus yang paling diremehkan. Tidur dan bangun di jam yang kurang lebih sama, bahkan di akhir pekan, berbuat lebih banyak untuk ketenangan harian daripada hampir apa pun yang bisa kamu tambahkan. Ini fondasi tempat semua yang lain bertumpu.
- Beberapa menit cahaya siang di awal hari, idealnya di luar. Ia membantu menyetel jam internalmu dan mengangkat suasana hati, dan tak butuh biaya apa pun.
- Satu jangkar gerak kecil. Jalan kaki sebentar, peregangan, apa pun yang mengeluarkanmu dari kepalamu dan membawamu ke tubuhmu untuk beberapa menit.
- Satu isyarat untuk meredakan diri di malam hari yang memberi tahu tubuhmu bahwa hari sudah menutup. Lampu yang lebih redup, ponsel di luar jangkauan, urutan kecil yang sama setiap malam.
- Satu titik kontak antarmanusia yang tulus. Sebuah pesan untuk teman, percakapan yang sungguhan, makan siang bersama seseorang. Koneksi juga perilaku yang menenangkan, dan gampang dibiarkan terlewat saat kamu sedang kewalahan.
Kamu tidak butuh semua ini. Dua atau tiga yang benar-benar akan kamu jaga lebih unggul daripada daftar tujuh yang akan kamu tinggalkan sebelum Jumat.
Buat imbalannya langsung terasa, sekecil apa pun
Otakmu mengunci perilaku yang terasa enak sekarang, bukan perilaku yang berbuah sebulan kemudian. Jadi beri dirimu imbalan kecil yang jujur di saat itu juga. Biarkan jalan kakimu jadi momen saat kamu menelepon seseorang yang kamu sukai. Biarkan napas paginya terjadi sambil ada cangkir berisi sesuatu yang hangat di tanganmu. Bahkan sekadar berhenti sejenak untuk menyadari “tadi rasanya enak” pun terhitung. Kamu bukan menyuap dirimu. Kamu sedang memberi kebiasaan itu alasan untuk kembali besok.
Siapkan rencana untuk hari saat ia berantakan
Pasti ada saatnya berantakan. Masukkan itu ke dalam rencana alih-alih terkejut saat ia terjadi. Tentukan versi mungilnya dari awal, yang bisa kamu lakukan saat semuanya kacau. Kalau jalan kaki tak bisa dilakukan, ia berubah jadi berdiri di teras selama satu menit. Kalau rutinitas meredakan diri mustahil dilakukan, cukup ponsel di sisi seberang kamar dan lampu dimatikan. Aturan yang melindungi sebuah rutinitas lebih dari aturan mana pun itu sederhana: jangan pernah bolos dua kali. Satu hari libur itu hidup. Dua hari libur berturut-turut adalah cara sebuah kebiasaan padam diam-diam. Jadi kamu tak harus sempurna. Kamu cuma perlu kembali.
Seperti apa rasanya setelah beberapa waktu
Beri ini beberapa minggu dan rasanya berubah. Napas di dekat jendela berhenti jadi tugas yang harus kamu ingat dan menjadi sesuatu yang memang tercakup dalam pagimu. Jalan kaki berhenti memerlukan keputusan. Ponsel yang berpindah ke sisi seberang kamar di malam hari berhenti jadi pertarungan dengan dirimu sendiri. Usahanya menguras habis, persis seperti yang dijanjikan penelitian otak, dan yang tersisa adalah lantai tenang di bawah hari-harimu yang tetap ada bahkan saat kamu tak memikirkannya.
Itulah hadiah yang sesungguhnya. Bukan rutinitas yang harus kamu paksakan, tapi segenggam hal kecil yang menenangkan, yang berjalan nyaris dengan sendirinya, menyangga dirimu di hari-hari saat kamu terlalu lelah untuk menyangga dirimu sendiri. Tujuannya tak pernah hari yang sempurna. Tujuannya hari yang lumayan baik secara andal, tersedia untukmu entah kamu bangun dalam keadaan termotivasi atau tidak.
Catatan tentang saat rutinitas tidak cukup
Rutinitas yang baik bisa memikul banyak hal. Ia tak bisa memikul segalanya, dan memang bukan untuk itu.
Kalau suasana hatimu tetap murung selama berminggu-minggu betapa pun stabilnya hari-harimu, kalau kamu tak bisa tidur atau malah tidur sepanjang waktu, kalau kecemasannya tak kunjung reda, kalau melewati satu hari biasa terasa lebih dari yang bisa kamu tanggung, itu bukan tanda rutinitasmu gagal. Itu tanda ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang minta diperhatikan, dan rutinitas memang tak pernah jadi alat yang tepat untuk itu. Menghubungi dokter atau terapis saat kamu sampai di titik itu bukan berarti menyerah pada kebiasaan-kebiasaan kecil tadi. Itu menambahkan jenis bantuan yang memang tak pernah dirancang untuk mereka berikan. Kamu bisa tetap menjaga napas paginya dan tetap butuh lebih dari sekadar bernapas. Kedua hal itu sama-sama benar, dan meminta sisanya adalah salah satu hal paling menenangkan yang bisa kamu lakukan.
Sumber
- UCL News, How long does it take to form a habit?
- British Journal of General Practice (PMC), Making health habitual: the psychology of 'habit-formation' and general practice
- Cleveland Clinic, Circadian Rhythm: What It Is, How It Works
- Mayo Clinic Press, The mental health benefits of routine