Tips singkat
- Janjikan kehadiranmu, bukan hasilnya.
- Akui rasa takutnya sebelum menyebut fakta apa pun.
- Tawarkan satu langkah kecil yang bisa kamu tepati.
Seseorang berdiri di ambang pintumu, atau di ujung lain sambungan telepon, jelas-jelas cemas. Ada kabar burung soal gelombang PHK. Sebuah hasil diagnosis baru saja keluar. Kesepakatan yang diandalkan semua orang baru saja berantakan. Mereka menatapmu, dan kata-kata itu hampir naik dengan sendirinya: "Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja."
Kebanyakan waktu, kamu sebenarnya tak tahu apakah semua akan baik-baik saja.
Di situlah simpulnya. Kamu ingin menghibur orang di hadapanmu, dan hiburan tercepat yang tersedia adalah janji tentang masa depan yang tak bisa kamu buat dengan jujur. Jadi kamu tetap membuatnya, karena diam terasa lebih buruk, dan karena menyaksikan seseorang ketakutan itu berat. Masalahnya, penenangan yang kosong punya umur simpan yang pendek. Begitu kenyataan menentangnya, dua hal patah sekaligus: saraf orang itu, yang langsung kembali ke titik awal, dan keyakinan mereka bahwa kamu akan mengatakan yang sebenarnya. Yang kedua jauh lebih sulit dibangun ulang.
Ada cara yang lebih baik untuk menenangkan, dan itu tak menuntutmu berbohong atau membeberkan setiap skenario terburuk. Itu dimulai dengan memisahkan dua hal yang sering kita campuradukkan.
Menenangkan dan meramal bukan hal yang sama
Saat kamu bilang "semua akan baik-baik saja", biasanya kamu sedang berusaha melakukan sesuatu yang baik: menurunkan ketakutan orang lain. Tapi kalimat itu diam-diam menyelundupkan sebuah ramalan. Kamu sedang meramal hasil, dan hasil justru bagian yang tak kamu kendalikan.
Kamu bisa membuang ramalannya dan menyimpan kebaikannya. Yang sebenarnya ditanyakan orang yang sedang kesusahan, di balik kata-katanya, jarang sekali "bisakah kamu menjamin hasilnya?". Lebih dekat ke "apakah aku sendirian dalam hal ini?" dan "bisakah aku percaya pada yang kamu katakan?". Dua pertanyaan itu bisa kamu jawab dengan jujur, setiap saat, apa pun hasil akhir situasinya.
Jadi langkahnya adalah berhenti menenangkan orang soal *masa depan* dan mulai menenangkan mereka soal *dirimu*. Kamu tak akan ke mana-mana. Kamu akan mengatakan yang sebenarnya sebatas yang kamu tahu. Kamu akan menghadapi masalahnya bersama mereka, bukan mengelola mereka dari jarak yang nyaman. Tak satu pun dari itu bergantung pada hasil, yang berarti tak satu pun bisa terbongkar sebagai kebohongan nanti.
Katakan yang kamu tahu, yang tak kamu tahu, dan apa berikutnya
Saat masa depan benar-benar tak pasti, hal paling menenangkan yang bisa kamu tawarkan adalah gambaran jelas tentang tanah yang sebenarnya kamu pijak. Harvard Business Review, yang menulis soal cara berbicara dengan tim ketika masa depan tak jelas, merumuskan tugas pemimpin sebagai memberi ketenangan tanpa menyodorkan harapan palsu. Satu struktur yang dapat diandalkan menyelesaikan sebagian besar pekerjaannya:
- Inilah yang kita tahu. Sampaikan fakta-fakta yang memang terkonfirmasi, dengan jelas, tanpa kamu lembekkan jadi bubur. Orang sanggup menerima fakta yang keras. Yang tak sanggup mereka terima adalah merasa kamu menyembunyikan sesuatu.
- Inilah yang belum kita tahu. Menyebut ketidaktahuan dengan lantang justru menenangkan secara aneh. Itu memberi tahu orang bahwa celah dalam pemahaman mereka sendiri itu nyata dan bersama, bukan tanda mereka melewatkan sesuatu yang jelas.
- Inilah yang sedang kita lakukan soal celah itu. Bahkan langkah berikutnya yang kecil dan nyata memulihkan rasa punya kendali. "Kita akan tahu lebih banyak hari Jumat, dan aku akan memberitahumu di hari aku mendengarnya" lebih ampuh daripada kata sifat menenangkan mana pun.
Bagian ketiga itu jauh lebih penting daripada yang orang kira. Ketidakpastian paling sulit ditanggung saat terasa pasif, seperti menunggu dalam gelap agar sesuatu dilakukan padamu. Sebuah langkah berikutnya, sekecil apa pun, mengubah penungguan menjadi sesuatu yang punya bentuk.
Perhatikan apa yang ditolak struktur ini. Ia tak meramal akhirnya. Ia tak bilang "dan semuanya akan beres". Ia memberi orang kebenaran, ukuran jujur dari ketidaktahuan, dan alasan untuk percaya kamu sedang menanganinya. Kombinasi itu menenangkan satu ruangan jauh lebih tahan lama daripada jaminan yang ceria.
Mengakui kamu tak punya jawaban justru membuatmu lebih aman untuk diikuti
Ada satu ketakutan di balik semua ini, yaitu bahwa mengakui ketidakpastian membuatmu terlihat lemah, dan bahwa orang yang ketakutan butuh kamu tampak yakin. Riset menunjuk ke arah sebaliknya.
Amy Edmondson, profesor Harvard yang karyanya tentang keamanan psikologis membentuk cara kita memandang kepercayaan dalam tim, menggambarkan kesediaan seorang pemimpin untuk mengakui kekeliruannya sendiri sebagai sebuah fondasi, bukan cacat. Kalimatnya layak kamu simpan di saku: "Aku mungkin melewatkan sesuatu di sini. Aku perlu mendengar dari kalian." Mengatakan itu tak terbaca sebagai ketidakcakapan. Itu terbaca sebagai kejujuran, dan memberi orang-orang di sekitarmu izin untuk membawakanmu kebenaran, bukan cuma kabar yang mereka kira ingin kamu dengar.
Pemimpin yang tak pernah mengakui adanya celah mengajari semua orang untuk berpura-pura yakin balik padanya. Pemimpin yang bisa berkata "Aku belum tahu, dan aku tak akan berpura-pura tahu" menjadi seseorang yang benar-benar bisa dipercaya orang dalam kegelapan, karena ia sudah menunjukkan ia tak akan menutup-nutupinya.
Seperti apa ini dalam kehidupan nyata
Hal-hal abstrak tak banyak membantu di ambang pintu. Ini versi-versi jujur dari momen itu, jenis yang benar-benar bisa kamu ucapkan.
Alih-alih "Jangan khawatir, pekerjaanmu aman", saat kamu tak tahu itu:
"Aku tak akan berpura-pura punya gambaran utuh, karena memang tidak. Inilah yang bisa kupastikan padamu saat ini, dan begitu itu berubah, kamu akan mendengarnya dariku duluan."
Alih-alih "Aku yakin hasil tesnya akan bersih", pada seseorang yang menunggu hasil:
"Penantian ini menyiksa, dan aku tak akan membujukmu untuk berhenti takut. Apa pun hasilnya, kamu tak menjalaninya sendirian. Aku akan ada di sini."
Alih-alih "Semuanya terkendali", saat jelas-jelas tidak:
"Ini minggu yang berat dan aku tak akan mempermanisnya. Kita fokus pada hal berikutnya yang ada di depan kita, dan aku akan terus mengabarimu seiring perkembangannya."
Masing-masing menurunkan ketakutan tanpa menghamburkan janji yang tak bisa kamu tutupi. Mereka mengakui perasaannya, mengatakan yang sebenarnya, dan menawarkan satu hal yang sungguh-sungguh milikmu untuk diberikan: kehadiranmu dan kejujuranmu.
Beberapa hal yang membantu
- Akui perasaannya sebelum kamu bicara apa pun soal fakta. "Wajar kamu khawatir, ini berat" lebih ampuh menenangkan seseorang daripada satu paragraf logika. Orang baru rileks setelah merasa dipahami, bukan sebelumnya.
- Ikuti ritme mereka, bukan rasa tak nyamanmu. Buru-buru menenangkan sering kali soal meredakan rasa gelisahmu sendiri saat menyaksikan orang menderita. Diam di dalamnya satu hitungan lebih lama daripada yang terasa nyaman. Keheningan dengan kehadiranmu di dalamnya lebih baik daripada satu kalimat cepat yang terdengar palsu.
- Jelas soal apa yang bisa kamu janjikan. "Aku akan cari tahu dan meneleponmu besok" adalah komitmen nyata, kecil dan bisa ditepati. Hiburan yang kabur menguap. Janji kecil yang ditepati menumpuk jadi kepercayaan.
- Jangan pula meminjam masalah. Kejujuran tak sama dengan mendaftar setiap skenario terburuk. Bertahanlah pada yang benar dan yang diketahui. Kamu mengincar yang mantap dan nyata, bukan yang suram.
- Lalu tepati janji yang kamu buat. Inilah seluruh fondasinya. Penunaian janji itulah yang mengubah kata-katamu dari percakapan ini menjadi seseorang yang memercayaimu di percakapan berikutnya.
Kapan ini lebih besar dari sekadar percakapan sulit
Kadang orang di hadapanmu bukan sekadar cemas soal hasil yang tak pasti. Mereka sedang tenggelam karenanya. Kalau seseorang tampak tak mampu berfungsi, tak bisa tidur atau makan, bicara soal menjadi beban, atau dengan cara apa pun menyatakan bahwa mereka tak ingin ada di sini, itu bukan momen untuk kejujuran lembut di atas. Itu momen untuk tetap dekat dan membantu mereka meraih dukungan sungguhan, seorang dokter, terapis, atau saluran krisis, dan tidak meninggalkan mereka sendirian dengannya. Kamu tak harus jadi orang yang punya jawaban. Kamu cukup jadi orang yang tak memalingkan muka dan membantu mereka menemukan seseorang yang bisa.
Hal paling menenangkan yang bisa kamu jadi bagi orang-orang yang mengandalkanmu bukanlah kepastian. Kepastian memang tak pernah jadi milikmu untuk ditawarkan. Yang paling menenangkan adalah fakta yang sunyi dan bisa dibuktikan bahwa saat keadaan berat, kamu mengatakan yang sebenarnya dan kamu tetap tinggal. Itu janji yang benar-benar bisa kamu tepati, dan penepatannya itulah yang akan mereka ingat lama setelah mereka lupa minggu buruk itu sebenarnya soal apa.
Sumber
- Harvard Business Review, How to Talk to Your Team When the Future Is Uncertain
- Harvard Business Review, How to Reassure Your Team When the News Is Scary
- AAMC (wawancara dengan Amy Edmondson), Psychological safety is critically important in medicine