Skip to main content
Sedang krisis atau berpikir untuk menyakiti diri sendiri? Kamu tidak sendirian. Cari layanan bantuan →

HUBUNGAN · MEMINTA BANTUAN

Cara meminta dukungan saat kamu lebih suka mengatasinya sendiri

Kebanyakan dari kita jauh lebih bersedia menolong daripada ditolong. Kalau meminta bantuan terasa canggung, berisiko, atau seperti merepotkan, kamu tidak rusak — kamu cuma berangkat dari hitungan yang keliru. Inilah yang sebenarnya benar tentang meminta, dan cara melakukannya supaya benar-benar sampai.

Dua perempuan duduk di meja dengan minuman

Photo by Brooke Cagle on Unsplash

Tips singkat

  • Buat permintaanmu kecil dan spesifik.
  • Lewati permintaan maaf berlebihan sebelum meminta.
  • Kirim meme saat tak ada apa-apa.

Ada jenis minggu tertentu saat hal yang benar untuk dilakukan sudah jelas dan kamu tetap saja tidak melakukannya. Kamu sedang tenggelam. Seorang teman chat "apa kabar?" dan kamu balas "baik, sibuk!" sambil duduk di dalam mobil di parkiran, tanpa menyetir ke mana-mana. Kamu tahu siapa yang bisa kamu telepon. Kamu tidak meneleponnya. Kamu bilang pada diri sendiri akan mengurusnya kalau keadaan sudah tenang, yang sebenarnya cuma cara menjanjikan bantuan pada diri sendiri persis di saat kamu tak lagi merasa membutuhkannya.

Meminta dukungan adalah salah satu hal paling sederhana yang bisa dilakukan seseorang dan sekaligus salah satu yang paling sulit. Bukan karena kata-katanya rumit. Tapi karena apa yang kita yakini akan terjadi saat kita mengucapkannya.

Sebagian besar keyakinan itu keliru. Bukan sedikit keliru. Tapi keliru secara terukur dan berulang, ke arah yang membuat kita tetap sendirian padahal seharusnya tak perlu.

Hitungan yang kamu lakukan di kepala itu meleset

Saat kamu membayangkan meminta bantuan pada seseorang, pikiranmu menjalankan perhitungan diam-diam. Seberapa besar ini akan mengganggunya? Apa dia diam-diam akan kesal? Apa dia akan bilang ya karena sungkan lalu memandangku lebih rendah? Perhitungan itu terasa seperti realisme. Padahal itu kekeliruan yang sudah terdokumentasi dengan baik.

Dalam serangkaian studi yang terbit pada 2022, para psikolog Xuan Zhao dan Nicholas Epley meneliti apa yang sebenarnya terjadi saat orang meminta bantuan dibanding apa yang dibayangkan si peminta akan terjadi. Di lebih dari dua ribu peserta, orang yang meminta secara konsisten meremehkan seberapa bersedia orang lain untuk menolong, meremehkan seberapa senang perasaan si penolong setelahnya, dan melebih-lebihkan seberapa repot si penolong dibuatnya. Dengan bahasa sederhana: kamu mengira dirimu beban. Padahal orang lain, lebih sering daripada tidak, justru senang kamu meminta.

Ini bukan angan-angan. Ini selaras dengan sesuatu yang sudah kamu tahu dari sisi sebaliknya. Coba ingat terakhir kali seorang teman memercayaimu dengan sesuatu yang sungguh-sungguh, memintamu datang, mendengarkan, membantunya pindahan, atau sekadar tetap menemani di telepon. Kamu tidak memasukkannya ke kategori "merepotkan". Kamu mungkin malah merasa lebih dekat dengannya. Sedikit berguna. Diam-diam tersanjung menjadi orang yang dia hubungi.

Itu perasaan yang sama yang menunggu di ujung sana saat kamu chat. Kamu cuma tak bisa melihatnya dari tempatmu berdiri.

Kenapa kita lebih memilih berjuang sendiri daripada meminta

Ada beberapa alasan yang jujur kenapa meminta bantuan terasa begitu mahal, dan menamainya menghapus sebagian kuasanya.

Yang paling nyaring adalah takut terlihat lemah. Di sepanjang perjalanan hidup, banyak dari kita menyerap gagasan bahwa kompeten berarti tak membutuhkan siapa pun, bahwa orang yang patut dikagumi adalah yang mandiri sepenuhnya. Jadi meminta bisa terasa seperti pengakuan kegagalan, bukan bagian normal dari menjadi manusia di tengah manusia lain. Ironisnya, studi-studi yang sama tentang mencari bantuan justru menemukan bahwa orang sering lebih menghormati si peminta, bukan sebaliknya. Permintaan yang dipikirkan dengan matang terbaca sebagai percaya diri, bukan ambruk. Itu menunjukkan kamu tahu apa yang sedang kamu hadapi dan cukup banyak akal untuk melibatkan orang lain. Sebaliknya, kemandirian total diam-diam bisa terbaca sebagai tembok.

Ada juga takut ditolak. "Bagaimana kalau dia bilang tidak, atau ragu, atau menarik diri?" Kemungkinan itu cukup perih sehingga tidak meminta bisa terasa lebih aman daripada mengambil risikonya. Dan ada satu lagi yang lebih senyap di bawah keduanya: kekhawatiran bahwa masalahmu terlalu besar, terlalu membosankan, terlalu berulang, bahwa kamu sudah menghabiskan jatah kesabaran orang lain.

Tak satu pun dari ini adalah cacat karakter. Semuanya cuma ramalan. Dan seperti kebanyakan ramalan yang dibuat otak yang cemas, semuanya condong ke skenario terburuk. Biaya meminta jadi digelembungkan. Biaya tidak meminta, yaitu gerusan pelan memikul sesuatu sendirian, diam-diam diabaikan karena sudah terasa familier.

Perlu dikatakan terang-terangan bahwa dukungan bukan kemewahan yang baru pantas kamu dapat setelah kamu membuktikan kamu tak sanggup. Tumpukan besar penelitian mengaitkan dukungan sosial dengan kesehatan mental yang lebih baik, kecemasan yang lebih rendah, dan daya tahan yang lebih kuat di bawah stres. Satu ulasan yang menggabungkan puluhan studi menemukan kaitan yang ajek dan sedang antara dukungan yang dimiliki seseorang dan seberapa baik keadaan psikologisnya. Koneksi bukan hadiah karena kamu sudah membaik. Sering kali ia justru bagian dari cara orang menjadi lebih baik.

Cara meminta yang sebenarnya

Tahu kamu sebaiknya meminta dan tahu caranya adalah dua persoalan berbeda. Permintaan yang kabur sulit dijawab, jadi cenderung mendapat tanggapan yang kabur juga ("kabari aku ya kalau butuh apa-apa"), lalu tak terjadi apa-apa. Permintaan yang baik itu kecil, spesifik, dan mudah dijawab dengan ya.

  1. Pilih satu orang dan satu hal. Kamu tak perlu menumpahkan segalanya pada semua orang. Pilih seseorang yang pernah hadir untukmu, dan pilih satu permintaan yang konkret. "Boleh aku telepon malam ini?" lebih mudah dipenuhi daripada "Aku butuh bantuan."
  2. Sebutkan dukungan macam apa yang kamu mau. Orang tak bisa membaca pikiranmu, dan mereka sering salah tebak, langsung masuk ke mode membereskan padahal kamu cuma ingin didengar. Coba kalimat yang mengarahkan: "Aku nggak butuh saran, aku cuma mau curhat sepuluh menit," atau "Aku justru pengin dengar pendapatmu soal ini."
  3. Buatlah spesifik dan terikat waktu. "Bisa nggak kamu jagain anak-anak Sabtu dari jam dua sampai jam empat?" lebih baik daripada "Aku butuh rehat sebentar kapan-kapan." Permintaan yang spesifik lebih mudah diselipkan ke kehidupan nyata, yang berarti lebih mungkin mendapat ya.
  4. Beri ruang baginya untuk menolak tanpa itu jadi bencana. Memberi jalan keluar yang anggun ("nggak apa-apa banget kalau kamu lagi penuh") justru membuat orang lebih mungkin menolong, karena itu memberitahunya bahwa kamu sedang meminta pada seorang manusia, bukan memeras bantuan.
  5. Lewati permintaan maaf berlebihan. Tumpukan "maaf banget ganggu, ini konyol banget, lupakan aja" tidak membuat permintaanmu lebih sopan. Itu cuma menandakan bahwa kamu merasa telah berbuat salah karena membutuhkan sesuatu. Padahal tidak. "Makasih ya, ini berarti banget buat aku" yang sederhana berbuat jauh lebih banyak.

Perhatikan bahwa semua ini tak menuntut kamu punya kata-kata yang sempurna atau sedang hancur dengan cara yang mengesankan. "Hei, minggu yang berat. Ada waktu buat jalan-jalan?" adalah permintaan yang utuh dan sangat baik.

Kadang permintaan tak berjalan seperti yang kamu harapkan. Seseorang sedang terganggu, atau kikuk dengan kata-katanya, atau benar-benar tak bisa hadir saat itu. Itu perih, dan bisa menggodamu untuk menyimpan bukti bahwa meminta memang berbahaya. Coba jangan biarkan satu tanggapan yang goyah menulis ulang seluruh aturan. Orang melewatkan momen karena alasan yang sama sekali tak ada hubungannya denganmu, hari yang berat baginya, ponsel yang tak ia lihat, salah tebak soal apa yang kamu butuhkan. Satu penolakan adalah informasi tentang satu orang pada satu waktu. Itu bukan vonis soal apakah kamu layak ditolong. Solusinya biasanya bukan menarik diri. Tapi meminta pada orang lain, atau meminta pada orang yang sama dengan lebih jelas.

Kalau bahkan permintaan kecil pun terasa mustahil

Kadang jarak antara kamu dan ponsel terasa terlalu lebar untuk diseberangi. Saat itu terjadi, kecilkan permintaannya sampai nyaris memalukan kecilnya. Jangan coba menjelaskan seluruh situasi. Kirim tiga kata: "Lagi mikirin kamu." Balas satu pesan yang selama ini kamu hindari. Duduk di samping seseorang alih-alih sendirian. Koneksi tak harus dimulai dengan pengakuan. Ia bisa dimulai dari kedekatan jarak, dan percakapan yang lebih sulit bisa menyusul nanti, saat kamu tak melakukannya dari nol.

Dan kalau kamu cenderung menjadi si penolong, orang yang selalu jadi tumpuan semua orang, meminta bisa terasa sangat asing. Orang yang paling cepat mendukung orang lain sering kali paling lambat menerima dukungan. Kalau itu kamu, pertimbangkan bahwa membiarkan seseorang hadir untukmu bukanlah mengambil. Itu memberi mereka hadiah yang sama yang kamu beri dengan ringan hati sepanjang waktu.

Belajar menerima begitu bantuan itu datang

Meminta cuma separuh keterampilannya. Separuh lainnya adalah membiarkan bantuan itu benar-benar sampai padamu, dan ternyata banyak orang lebih jago di yang pertama daripada yang kedua. Tawaran datang, dan secara refleks kamu menolaknya. "Ah, nggak usah repot." "Aku nggak apa-apa, sungguh." "Nggak enak ngerepotin kamu." Tiap penolakan terasa sopan. Ditumpuk bersama, semuanya mengajari orang-orang yang menyayangimu bahwa dukungan mereka memantul balik, dan akhirnya mereka berhenti menawarkan.

Menerima dengan baik adalah latihan tersendiri yang senyap. Saat seseorang hadir, tanggapan paling murah hati sering kali yang paling sederhana: "makasih ya, ini benar-benar membantu." Tanpa menolak, tanpa buru-buru membalasnya seketika, tanpa bersikeras bahwa kamu sebenarnya bisa mengatasinya sendiri. Biarkan ia sampai. Duduki sedikit rasa tak nyaman karena dipedulikan. Kalau menerima bantuan membuatmu merasa langsung berutang, sadari perasaan itu dan letakkan. Hubungan bukan buku besar utang-piutang. Memberi dan menerima itu seimbang dalam hitungan tahun, bukan sore hari, dan orang-orang yang layak dipertahankan tidak sedang menghitung.

Ada juga versi menerima yang berarti mengatakan apa yang sebenarnya kamu rasakan setelahnya. "Hariku tadi buruk banget dan teleponmu mengubah segalanya" memberitahu seseorang bahwa usahanya berarti. Itu menutup lingkaran. Itu membuatnya lebih mungkin menjangkaumu lain kali, dan membuat seluruh pertukaran terasa kurang seperti transaksi dan lebih seperti apa adanya, yaitu dua orang yang bergantian saling menopang.

Membangun dukungan sebelum kamu kepepet

Waktu paling buruk untuk menjangkau jaringan dukungan adalah saat pertama kali. Hubungan yang hanya kamu hubungi saat krisis bisa terasa berat sebelah untuk dirawat dan canggung untuk diaktifkan. Solusinya tidak megah. Tapi kecil, rutin, kontak tanpa beban saat tak ada apa-apa.

Kirim memenya. Tanyakan bagaimana wawancaranya. Jadwalkan kopi rutin bahkan saat tak ada yang perlu dilaporkan. Mayo Clinic mencatat bahwa pertemanan yang kuat terkait dengan stres yang lebih rendah, suasana hati yang lebih baik, dan usia yang lebih panjang, dan bahwa kualitas koneksi itu lebih penting daripada jumlahnya. Kamu tak butuh kerumunan. Kamu butuh beberapa orang yang tetap hangat karena kamu menjaga salurannya tetap terbuka.

Anggap saja seperti menjaga api kecil tetap menyala alih-alih mencoba menyalakannya saat hujan. Sapaan-sapaan biasa itu adalah kayu pemantiknya. Itulah yang membuat permintaan yang sungguh-sungguh, saat ia datang, terasa seperti langkah berikutnya alih-alih memulai dari dingin.

Saat dukungan yang kamu butuhkan adalah dari profesional

Teman dan keluarga itu penting, dan mereka punya batas. Mereka tidak terlatih untuk segala hal, dan menyandarkan semuanya pada satu orang bisa membuat hubungannya menipis. Sebagian hal menuntut seseorang yang memang pekerjaannya adalah membantu.

Kalau kamu sudah berjuang lebih dari beberapa minggu, kalau tidur, pekerjaan, atau hubunganmu sungguh-sungguh terdampak, kalau orang-orang yang menyayangimu seperti tak bisa menjangkaumu, atau kalau bebannya mulai terasa lebih dari yang bisa kamu pikul, itu saatnya memperluas lingkaran ke dokter atau terapis. Menjangkau bantuan profesional bukan tanda temanmu gagal menolongmu atau kamu gagal mengatasi keadaan. Itu keterampilan yang sama seperti permintaan apa pun, diarahkan pada seseorang yang siap menangkap apa yang kamu pikul. Dan kalau keadaan pernah terasa sungguh-sungguh tidak aman atau tak tertahankan, kamu tak perlu menunggu atau merangkainya dengan sempurna. Bantuan memang untuk dijangkau lebih awal, bukan cuma saat di ujung tanduk.

Kebenaran senyap yang mengalir di balik semua ini: orang-orang di sekitarmu hampir selalu lebih bersedia hadir daripada yang dibiarkan diyakini oleh rasa takutmu. Kamu takkan tahu itu dengan menebak-nebak. Kamu menemukannya dengan meminta. Mulailah dengan satu orang, satu hal kecil, hari ini.

Sumber

Sebelum kamu pergi, sepatah kata soal perawatan

KEEP CALM menyediakan alat bantu diri edukatif yang gratis. Ini bukan nasihat medis, diagnosis, atau terapi, dan bukan pengganti perawatan profesional. Jika ada sesuatu di sini yang terasa lebih dari sekadar stres sehari-hari, menghubungi profesional adalah langkah yang kuat dan masuk akal.

If you are in crisis or thinking about harming yourself, you are not alone. In the US, call or text 988 (Suicide & Crisis Lifeline, 24/7), text HOME to 741741 (Crisis Text Line), or call 911 in an emergency.