Skip to main content
Sedang krisis atau berpikir untuk menyakiti diri sendiri? Kamu tidak sendirian. Cari layanan bantuan →

MEMAHAMI · STRES & KECEMASAN

Apa sebenarnya stres itu

Kita melemparkan kata ini untuk segala hal, dari minggu yang berat sampai ban kempes. Di balik semuanya ada satu sistem bertahan hidup yang tua melakukan persis apa yang dirancang untuknya. Mengetahui cara kerjanya mengubah cara kamu berhubungan dengannya.

Pemandangan gunung dan matahari terbit dari ketinggian

Photo by Tadej Skofic on Unsplash

Tips singkat

  • Pakai embusan napas lambat untuk menurunkannya.
  • Baca ulang debaran sebagai kesiapan, bukan rasa takut.
  • Bagikan hal yang berat ke seseorang yang stabil.

Ucapkan kata itu keras-keras dan perhatikan apa yang muncul. Bagi kebanyakan orang itu adalah simpul di perut, kotak masuk yang penuh, orang yang sedang mereka hindari, perasaan bahwa terlalu banyak yang harus dilakukan dan tak cukup waktu. Kita memakai "stres" untuk berarti tekanan yang datang ke arah kita sekaligus cara tubuh kita bereaksi terhadapnya, dua-duanya sekaligus, yang sebagian membuatnya terasa begitu licin. Kamu tak bisa memperbaiki sesuatu yang tak bisa kamu lihat dengan jelas.

Jadi mari kita lihat langsung.

Stres adalah respons tubuhmu terhadap sebuah tuntutan atau ancaman. Itulah seluruh definisinya. Sesuatu muncul yang dibaca otakmu sebagai penting atau berbahaya, dan tubuhmu memindah gigi untuk menghadapinya. Ini bukan kerusakan. Ia salah satu sistem tertua dan paling berguna yang kamu punya, dan di hari yang baik kamu akan tersesat tanpanya.

Ia sistem bertahan hidup, dan ia berfungsi

Bayangkan nenek moyangmu mendengar ranting patah dalam kegelapan. Dalam sepersekian detik, sebelum pikiran sadar apa pun, tubuh mereka bersiap untuk melawan atau lari. Jantung lebih cepat. Napas lebih cepat. Otot bersiaga. Indra menajam. Kesiapan itu adalah respons stres, dan ialah alasan garis keturunanmu bertahan cukup lama untuk menghasilkanmu.

Urutannya cepat dan otomatis. Sebuah area kecil berbentuk almond di otak bernama amigdala bertindak sebagai alarm. Saat ia merasakan ancaman, ia memberi sinyal ke hipotalamus, yang oleh para klinisi Harvard digambarkan sebagai semacam pusat komando. Hipotalamus menginjak gas: ia menyalakan sistem saraf simpatis, dan kelenjar adrenal membanjiri aliran darahmu dengan adrenalin (disebut juga epinefrin). Dalam sekejap jantungmu memompa lebih keras, darah mengalir deras ke otot-otot besarmu, saluran napasmu terbuka, dan energi yang tersimpan mengalir ke darahmu sehingga kamu punya bahan bakar untuk bergerak.

Kalau ancamannya bertahan, gelombang kedua yang lebih lambat ikut menyala. Otak melepaskan rangkaian hormon yang berujung pada kortisol dari kelenjar adrenal. Kortisol menjagamu tetap terisi dan waspada, menahan tubuh dalam keadaan terpacu. Ialah hormon yang membuatmu terus berjalan saat lari cepat berubah menjadi maraton.

Inilah bagian yang layak dipegang: ini seharusnya mati. Saat bahayanya berlalu, cabang kedua sistem sarafmu, parasimpatis, bertindak seperti rem. Kortisol turun. Jantung melambat. Tubuh kembali ke urusan biasanya: beristirahat, mencerna, dan memperbaiki. Respons stres yang sehat adalah gelombang. Ia naik, menjalankan tugasnya, lalu surut.

Kenapa sistem yang berguna terasa begitu buruk

Masalahnya, alarmmu tak tahu beda antara ranting patah dan email yang pasif-agresif. Amigdala dibangun untuk kecepatan, bukan ketepatan. Ia lebih memilih membunyikan seratus alarm palsu daripada melewatkan satu beruang sungguhan. Jadi sebuah tenggat, percakapan yang menegangkan, tagihan yang belum dibayar, berita utama yang menakutkan, semua bisa memicu sirkuit yang sama yang berevolusi untuk bahaya fisik.

Dan kebanyakan ancaman modern tak berakhir dengan lari cepat. Tubuhmu bersiap untuk melawan atau lari, lalu kamu duduk di meja dan membalas pesan lagi. Energinya tak punya tempat untuk pergi. Gelombangnya naik dan tak pernah benar-benar turun lagi. Ketidakcocokan itu (respons kuno bertemu dunia yang bukan rancangannya) adalah sebagian besar dari apa yang kita maksud saat bilang kita stres.

Pada saat itu, gejalanya bersifat fisik karena responsnya bersifat fisik. Jantung berpacu. Dada sesak. Napas dangkal. Rahang atau bahu yang tak mau mengendur. Perut yang mendadak melorot atau bergolak. Pikiran yang berputar dan tak mau melambat. Tak satu pun dari itu berarti ada yang salah dengan dirimu. Itu berarti sistem bertahan hidupmu menyala dan menunggu bahaya yang, lebih sering daripada tidak, bukan jenis yang bisa kamu tinju atau larikan.

Kenapa hari yang sama menjatuhkan satu orang dan tidak yang lain

Kamu pernah melihat ini. Dua orang menerima kabar buruk yang sama, jadwal mustahil yang sama, atasan sulit yang sama. Yang satu remuk. Yang lain mengangkat bahu dan melanjutkan. Perbedaan itu bukan kekuatan kemauan, dan bukan karena salah satunya pura-pura tenang. Itu karena stres tidak tinggal di dalam peristiwanya. Ia tinggal di ruang antara apa yang diminta darimu dan apa yang kamu rasa kamu punya untuk menghadapinya.

Psikolog Richard Lazarus menghabiskan puluhan tahun untuk ini, dan karyanya menjadi cara kebanyakan peneliti memikirkan stres hari ini. American Psychological Association merangkumnya sebagai sebuah transaksi. Pikiranmu menjalankan dua pengecekan cepat, yang sebagian besar bawah sadar, atas situasi apa pun. Pertama: apakah ini ancaman bagi sesuatu yang kupedulikan? Lalu: apakah aku punya yang kubutuhkan untuk menanganinya? Saat tuntutan terasa lebih besar dari sumber dayamu, alarm berbunyi. Saat kamu merasa siap, tuntutan yang sama nyaris tak terdaftar.

Itulah kenapa minggu yang padat bisa terasa membangkitkan energi saat kamu bugar, didukung, dan yakin pada dirimu, dan menghancurkan saat kamu sudah terkuras, sendirian, atau kurang tidur. Besarnya tumpukan tidak berubah. Pembacaanmu tentang apakah kamu bisa memikulnya yang berubah. Itu juga kenapa dukungan begitu penting. Hal sulit yang dibagi dengan seseorang yang ada di belakangmu dinilai berbeda dari hal sulit yang sama yang dihadapi sendirian, dan tubuhmu merespons perbedaan itu.

Ini bukan cara untuk mengatakan stres itu cuma ada di kepalamu, atau bahwa kamu bisa berpikir keluar dari hidup yang benar-benar kelebihan beban. Sebagian tuntutan memang terlalu besar bagi siapa pun, dan tak ada pembingkaian ulang yang memperbaiki situasi yang perlu berubah. Tapi ia memang berarti ada dua hal yang terbuka untukmu yang akan disembunyikan oleh pandangan yang hanya melihat peristiwa. Kamu bisa membangun sumber dayamu, dengan istirahat, keterampilan, dan orang-orang. Dan kamu bisa mempertanyakan pembacaan pertamamu, karena penilaian ancaman awal itu cepat dan sering keliru soal seberapa berbahaya sesuatu sebenarnya.

Stres jangka pendek dan jenis jangka panjang

Inilah pembedaan yang paling penting, dan inilah yang terus didatangi riset. National Institute of Mental Health menarik garis tegas antara dua jenis.

Stres akut bersifat jangka pendek. Ia melonjak lalu memudar. Kamu menginjak rem untuk menghindari tabrakan, kamu masuk ke wawancara kerja, kamu bicara serius dengan seseorang yang kamu cintai. Tubuhmu menyala, menangani momennya, lalu tenang. Jenis stres ini tak berbahaya, dan sering kali sungguh membantu. Ia menajamkan fokusmu, memberimu sentakan energi, dan bahkan bisa membuatmu sedikit lebih tangguh setelahnya. Debaran sebelum tampil yang dirasakan musisi dan atlet adalah sistem yang sama ini, memberi mereka keunggulan.

Stres kronis adalah cerita yang lain. Ia adalah stres yang tak berakhir, yang berjalan berminggu-minggu atau berbulan-bulan tanpa sakelar mati yang nyata. Uang yang selalu seret. Pekerjaan yang menggerus. Merawat orang tanpa kelegaan. Hubungan yang menyakitkan. Penyakit yang tak kunjung sembuh. Di sini alarmnya tetap menyala, kortisol tetap tinggi, dan sistem yang dibangun untuk keadaan darurat singkat tersangkut di posisi menyala.

Di situlah kerugiannya berasal. Bukan dari stres itu sendiri, tapi dari respons stres yang tak pernah sempat surut. Literatur medis konsisten soal ini: aktivasi berkepanjangan sistem stres terkait dengan masalah nyata di seluruh tubuh. Para peninjau menunjuk pada tekanan darah yang lebih tinggi dan beban pada jantung, sistem imun yang melemah, gangguan tidur dan pencernaan, serta kaitan yang jelas dengan kecemasan dan depresi. Para klinisi Harvard mengatakannya dengan gamblang: aktivasi kronis mekanisme bertahan hidup ini merusak kesehatan.

Mesinnya tidak rusak. Ia cuma diminta tetap menyala jauh lebih lama dari yang pernah dimaksudkan.

Sedikit tekanan justru baik untukmu

Ada sisi lain yang mudah terlewat saat stres terasa seperti musuh. Hidup tanpa tuntutan sama sekali bukanlah impian yang kedengarannya enak. Para peneliti telah memetakan hubungan antara tekanan dan kinerja selama lebih dari seabad, dan ia cenderung mengikuti sebuah kurva. Dengan terlalu sedikit, kamu mengambang. Kamu bosan, datar, tak termotivasi, mesin yang berputar di gigi netral. Saat tekanan naik, naik pula fokus dan energimu, sampai ke titik manis di mana kamu tajam, terlibat, mengerjakan sebagian karya terbaikmu. Lewatkan puncak itu dan ia jatuh dari tebing: kamu terjerumus ke kewalahan, pikiranmu menyempit, kesalahan menyusup masuk.

Gagasan berguna yang terkubur dalam kurva itu adalah bahwa tujuannya tak pernah nol stres. Sebagian tekanan adalah yang membuatmu bangun dari tempat tidur, memenuhi tenggat, menyiapkan percakapan yang berat, cukup peduli untuk mencoba. Tujuannya adalah hidup lebih sering di dekat puncak kurva, dan mengenali saat kamu sudah tergelincir melewati tepi ke bagian di mana lebih banyak usaha membuat hal-hal lebih buruk, bukan lebih baik. Tepi itulah tempat istirahat berhenti jadi kemewahan dan menjadi langkah yang cerdas.

Apa yang ini ubah untukmu

Mengetahui mekanikanya tak membuat minggu yang berat jadi lebih mudah dengan sendirinya. Tapi ia melakukan beberapa hal yang tenang dan berguna.

Ia mengeluarkan unsur "menjadikan gejala sebagai urusan pribadi" dari gambaran. Jantung berdebar sebelum presentasi bukan tanda kamu lemah atau rusak. Itu tubuhmu menyodorkanmu energi. Kamu bahkan bisa membaca ulang perasaan itu sebagai kesiapan alih-alih rasa takut, dan pergeseran cerita kecil itu sungguh mengubah bagaimana gejolak yang sama itu mendarat.

Ia memberitahumu ke mana harus menyasar. Kalau masalah inti dari stres yang merusak adalah gelombang yang tak mau surut, maka keterampilan yang paling penting bukan menghindari stres, yang lagi pula mustahil. Tapi membantu tubuhmu turun kembali, dengan sengaja dan teratur. Itulah seluruh logika di balik embusan napas yang lambat, jalan kaki, tidur yang nyata, waktu bersama orang-orang yang menstabilkanmu, dan menggerakkan tubuhmu untuk membakar bahan bakar yang ditumpahkan alarm ke darahmu. Kamu tidak sedang berusaha merasa tak ada apa-apa. Kamu sedang menutup putaran yang dibuka oleh respons itu.

Dan ia membantumu memisahkan dua jenisnya. Sore yang penuh stres yang kemudian berlalu adalah sistemmu yang bekerja. Tekanan yang sudah duduk di dadamu berbulan-bulan, mengoyak tidurmu dan kesabaranmu dan kesehatanmu, adalah hal yang berbeda, dan ia meminta respons yang berbeda.

Saat stres meminta lebih dari sekadar keterampilan menghadapi

Perawatan diri yang baik bisa mengangkat banyak beban dari pundakmu. Ia punya batas, dan tak ada yang memalukan dalam mencapainya.

Layak bicara dengan dokter atau terapis saat stres berhenti jadi sesuatu yang kamu lewati dan menjadi cuaca tempat kamu tinggal. Beberapa tanda yang jujur: kamu cemas atau gelisah hampir sepanjang waktu. Tidur tak kunjung datang, atau tak mau bertahan. Kamu makin bersandar pada alkohol, makanan, atau hal lain untuk mengurangi ketegangan. Sakit kepala, gangguan perut, atau jantung berpacu terus muncul. Hal-hal dan orang-orang yang dulu kamu nikmati terasa terlalu berat. Kamu membentak orang-orang yang kamu pedulikan dan tak bisa menemukan remnya.

Tak satu pun dari itu berarti kamu gagal mengelola stres. Itu berarti bebannya sudah melampaui yang seharusnya dipikul satu orang sendirian, dan ada orang-orang yang seluruh pekerjaannya adalah membantumu meletakkannya. Dokter perawatan primer adalah perhentian pertama yang baik. Begitu juga terapis. Kalau perasaannya sampai condong ke putus asa, atau kamu mendapati dirimu berpikir kamu lebih baik tiada, tolong perlakukan itu sebagai keadaan darurat sebagaimana adanya dan hubungi saluran krisis atau seseorang yang kamu percaya hari ini. Kamu tak harus yakin ini serius untuk pantas mendapat bantuan atasnya.

Stres akan terus muncul sepanjang sisa hidupmu. Itu harga dari memedulikan banyak hal dan punya tubuh yang ingin menjagamu tetap aman. Tujuannya tak pernah menyingkirkannya. Tapi membiarkan gelombangnya naik saat ia perlu, dan tahu cara membantunya turun.

Sumber

Sebelum kamu pergi, sepatah kata soal perawatan

KEEP CALM menyediakan alat bantu diri edukatif yang gratis. Ini bukan nasihat medis, diagnosis, atau terapi, dan bukan pengganti perawatan profesional. Jika ada sesuatu di sini yang terasa lebih dari sekadar stres sehari-hari, menghubungi profesional adalah langkah yang kuat dan masuk akal.

If you are in crisis or thinking about harming yourself, you are not alone. In the US, call or text 988 (Suicide & Crisis Lifeline, 24/7), text HOME to 741741 (Crisis Text Line), or call 911 in an emergency.