Tips singkat
- Perhatikan ajakannya berikutnya dan jawablah.
- Tanyakan bagian terbaik dari hari ini.
- Hidupkan kembali satu ritual kecil harian.
Tidak ada yang menjadwalkan momen saat dua orang berhenti saling mendekat. Jarang ada pertengkaran yang bisa menjelaskannya. Kalian masih sopan. Masih berbagi pekerjaan rumah, masih ingat jadwal ke dokter gigi, dan masih tidur di ranjang yang sama. Dari luar, bahkan dari sebagian besar dalam, hubungannya baik-baik saja.
Lalu suatu malam kamu sadar kamu tidak ingat kapan terakhir kali kalian benar-benar mengobrol. Bukan soal urusan harian. Bukan soal siapa yang menjemput anak atau mau makan apa malam ini. Obrolan yang sesungguhnya, jenis yang membuat salah satu dari kalian mengatakan sesuatu yang tulus dan yang lain mendekat untuk mendengarnya.
Jarak itulah yang kami maksud dengan keretakan yang sunyi. Ia berlangsung pelan, wajar, dan masih bisa dipulihkan kalau kamu menyadarinya tepat waktu. Bagian sulitnya, ia nyaris tidak pernah memberi tahu kehadirannya.
Mengapa jarak yang pelan justru yang berbahaya
Kita cenderung mengira hubungan dibangun atau dirusak oleh hal-hal besar. Perselingkuhan, pertengkaran hebat, pengkhianatan. Hal-hal itu memang terjadi. Tapi riset tentang apa yang sebenarnya menentukan apakah pasangan akan bertahan justru menunjuk ke sesuatu yang jauh lebih tidak dramatis.
Di laboratorium risetnya di Seattle, psikolog John Gottman menghabiskan puluhan tahun mengamati pasangan berinteraksi, lalu mengikuti mereka selama bertahun-tahun untuk melihat siapa yang bertahan. Yang membedakan pasangan yang tetap dekat dari yang akhirnya berpisah bukanlah cara mereka bertengkar. Melainkan cara mereka menanggapi satu sama lain dalam detik-detik biasa yang mudah terlupa. Salah satunya mengangkat kepala dari wastafel dan berkata, "Lihat burung itu." Yang lain menoleh. Atau tidak.
Gottman menyebut ajakan-ajakan kecil ini "ajakan untuk terhubung", dan menyebut tanggapannya sebagai "menoleh mendekat" atau "menoleh menjauh". Angkanya mencolok. Di laboratoriumnya, pasangan yang tetap bahagia bersama menoleh mendekat pada ajakan satu sama lain sekitar 86 persen dari waktu. Pasangan yang kemudian berpisah hanya menoleh mendekat sekitar 33 persen dari waktu. Momen kecil yang sama. Masa depan yang jauh berbeda.
Itulah mesin dari keretakan yang sunyi. Satu "lihat burung itu" yang diabaikan tidak ada artinya. Tapi ribuan ajakan seperti itu, menumpuk selama bertahun-tahun, mengajari dua orang bahwa mendekat tidak menghasilkan apa-apa. Maka mereka berhenti mendekat. Keheningan yang menyusul terasa seperti ketenangan. Padahal lebih dekat ke kelaparan.
Seperti apa wujud jarak itu sebenarnya
Keterputusan itu licik justru karena ia tidak terlihat seperti konflik. Sering kali ia terlihat seperti kedamaian. Berikut beberapa tanda yang lebih senyap yang layak diperhatikan, pada dirimu sendiri atau di antara kalian berdua:
- Obrolan kalian menyusut menjadi urusan harian. Jadwal, tagihan, anjing, mertua. Lapisan administratif dari hidup bersama berjalan lancar, dan nyaris tidak ada hal lain yang dibicarakan.
- Kamu mulai menceritakan kepada orang lain hal-hal yang dulu kamu ceritakan lebih dulu kepada pasanganmu. Seorang teman, rekan kerja, atau saudara kini mendengar kabar baik dan buruk lebih dulu daripada dia.
- Kamu merasa kesepian di ruangan yang sama. Bersama secara fisik, tapi secara emosi berada di tempat lain. Kesepian jenis ini bisa lebih perih daripada benar-benar sendirian.
- Rasa ingin tahu memudar. Kamu berasumsi sudah tahu apa yang akan dia katakan, jadi kamu berhenti bertanya. Dia melakukan hal yang sama.
- Sentuhan menjadi sekadar fungsional atau jarang. Tangan yang sekilas menyentuh bahu, pelukan yang sungguh-sungguh, sapaan fisik kecil-kecil, semua itu menipis tanpa ada yang memutuskannya.
- Kamu diam-diam menghitung skor. Rasa kesal menumpuk di latar belakang, tapi belum cukup keras untuk dipertengkarkan.
Tidak satu pun dari ini membuktikan apa-apa dengan sendirinya. Setiap hubungan panjang melewati masa-masa berjarak, terutama saat tertekan, punya bayi baru, musim kerja yang berat, sakit, atau berduka. Pertanyaannya, apakah jarak itu sekadar musim atau sebuah arah.
Harga dari pura-pura baik-baik saja
Menggoda untuk membiarkannya saja. Semuanya tenang. Buat apa diutak-atik? Tapi jarak emosional bukanlah sesuatu yang netral, dan ia tidak hanya hidup di dalam perasaanmu.
Sebuah studi jangka panjang terhadap pasangan suami istri lanjut usia menemukan bahwa kesepian di dalam pernikahan berkaitan dengan kesehatan fisik yang lebih buruk bagi keduanya, termasuk ukuran yang terkait gula darah dan kesehatan pembuluh darah. Yang penting, hubungan yang kuat dan saling mendukung meredam dampak itu. Kedekatan bukanlah kemewahan yang menumpang di atas pernikahan. Ia melakukan kerja perlindungan yang nyata bagi dua tubuh, bukan hanya dua hati.
Ada pula harga yang lebih senyap. Ketika dua orang berhenti saling menoleh mendekat, hubungannya kehilangan cadangannya. Karya Gottman menunjuk pada semacam neraca emosional: pasangan yang stabil dan bahagia menjaga sekitar lima interaksi positif untuk setiap satu interaksi negatif saat konflik. Setoran kecil kehangatan dan perhatian sehari-hari itulah yang dibelanjakan hubungan ketika pertengkaran sungguhan akhirnya datang. Biarkan saldonya habis selama tahun-tahun yang tenang, maka badai serius pertama tidak punya apa-apa untuk ditarik.
Cara mulai saling menoleh mendekat kembali
Kabar baik di balik semua ini adalah betapa kecilnya perbaikan yang dibutuhkan. Kalau kerusakannya terjadi dalam momen-momen mungil, pemulihannya juga dilakukan dalam momen-momen mungil. Kamu tidak butuh percakapan dramatis atau liburan akhir pekan untuk memulai. Kamu hanya perlu kembali memperhatikan ajakan-ajakan itu, milik dia dan milikmu sendiri.
Beberapa titik untuk memulai:
Tangkap ajakan berikutnya dan jawablah. Selama satu hari, cukup perhatikan kapan pasanganmu mendekat, lewat komentar, helaan napas, kalimat yang setengah jadi, atau cerita tentang harinya. Lalu tanggapi seolah itu penting. Letakkan ponsel. Angkat kepala. Ajukan pertanyaan lanjutan. Kamu tidak sedang menyelesaikan apa pun. Kamu hanya hadir untuk momen kecil itu.
Ajukan satu pertanyaan yang sungguh-sungguh setiap hari. Bukan "Gimana kerjaan?", yang cuma mengundang jawaban "Ya gitu deh." Coba "Apa bagian terbaik dari harimu?" atau "Akhir-akhir ini lagi mikirin apa?" Intinya adalah benar-benar penasaran pada seseorang yang sudah kamu anggap kamu kenal seluruhnya. Padahal tidak, tidak sepenuhnya. Tidak ada manusia yang pernah selesai dikenali.
Hidupkan kembali satu ritual kecil. Enam menit di pintu saat salah satu dari kalian pergi dan pulang. Ngopi bareng sebelum rumah terbangun. Jalan santai sesudah makan malam tanpa ponsel. Ritual adalah cara agar kedekatan tidak lagi bergantung pada motivasi dan mulai berjalan otomatis, dalam arti yang baik.
Sebut jaraknya dengan suara lantang, dengan lembut. Inilah yang paling berani. Bukan sebagai tuduhan, melainkan sebagai undangan. Sesuatu seperti, "Belakangan aku merasa agak jauh darimu, dan aku kangen kamu. Bisa nggak kita coba memperbaikinya?" Diucapkan tanpa menyalahkan, kalimat itu sendiri adalah sebuah ajakan. Cara pasanganmu menanggapinya akan banyak bercerita.
Turunkan standar untuk kasih sayang. Kamu tidak perlu menunggu gelombang romansa untuk meletakkan tangan di punggung seseorang. Sering kali perasaan menyusul gestur, bukan sebaliknya. Bersikaplah hangat, dan kehangatan cenderung menyusul.
Perhatikan, tidak ada satu pun dari ini yang megah. Justru itulah intinya. Pasangan yang tetap dekat bukanlah yang terus-menerus diiringi kembang api. Mereka adalah yang tetap saling menjawab dalam momen-momen kecil, tahun demi tahun, jauh setelah gairah awal memudar.
Saat butuh lebih dari sekadar kalian berdua
Kadang jaraknya lebih lebar daripada yang bisa dijangkau oleh perbaikan harian, dan itu layak diakui dengan jujur. Kalau kalian sudah mencoba saling menoleh mendekat tapi terus membentur tembok. Kalau setiap upaya untuk benar-benar mengobrol selalu tergelincir ke pertengkaran yang sama atau keheningan yang sama. Kalau ada penghinaan di ruangan itu, mata yang diputar dan nada mencemooh, atau aksi membatu, ketika salah satu dari kalian menutup diri sepenuhnya lalu pergi. Itu pola-pola yang lebih berat, dan terapis pasangan yang terlatih dalam metode berbasis bukti bisa membantu dengan cara yang tidak bisa dicapai oleh kemauan saja.
Mencari bantuan lebih awal bukan tanda bahwa hubungan sedang gagal. Itu salah satu hal terkuat yang bisa dilakukan dua orang yang berkomitmen, dan hasilnya jauh lebih baik sebelum rasa kesal bertahun-tahun mengeras.
Catatan terpisah yang lebih mendesak. Kalau hubunganmu melibatkan kekerasan fisik, ancaman, intimidasi, atau rasa takut, ini bukan soal menyambung kembali, dan saran di sini tidak berlaku. Keselamatanmu yang utama, dan ada orang-orang yang terlatih untuk membantumu memikirkannya secara pribadi dan tanpa menghakimi.
Sebagian besar hubungan yang merenggang sebenarnya tidak pernah rusak. Mereka hanya tidak terurus, dua orang yang menjadi sibuk dan lelah lalu berhenti mengangkat kepala. Ajakan untuk mendekat kembali hampir selalu lebih kecil daripada yang kamu takutkan. Biasanya bermula dari satu orang yang memutuskan untuk memperhatikan, lalu menjawab.
Sumber
- The Gottman Institute, Want to Improve Your Relationship? Start Paying More Attention to Bids
- The Gottman Institute, The Magic Relationship Ratio, According to Science
- PubMed Central, Loneliness, Marital Quality, and Vascular Health Among Older U.S. Couples: A Longitudinal Dyadic Study