Tips singkat
- Catat hal yang harus diingat, bukan cuma tugas rumahnya.
- Serahkan satu pekerjaan utuh, bukan langkah-langkahnya.
- Bicarakan saat suasana sedang tenang.
Pasanganmu mencuci piring. Dia menjemput anak setiap Selasa. Kalau ditanya, dengan jujur dia akan bilang kalian berdua membagi semuanya cukup adil. Tapi tetap saja kamu yang terbaring terjaga sambil memutar daftar di kepala. Siapa yang butuh sepatu baru. Kapan mobil harus diservis. Apakah ada kado untuk pesta hari Sabtu dan apakah kamu sudah mengonfirmasi kehadiran sama sekali.
Kesenjangan itu ada namanya. Tugas rumah yang bisa kamu lihat hanya setengah dari pekerjaan. Setengah lainnya adalah memperhatikan, merencanakan, mengingat, dan kekhawatiran diam-diam agar rumah tangga dan keluarga tetap berjalan. Peneliti menyebutnya kerja kognitif. Kebanyakan orang menyebutnya beban mental saja. Hal ini jarang muncul di daftar tugas rumah, dan layak dibicarakan, karena ketika semua itu jatuh ke satu orang, ia menggerus orang itu dengan cara yang sulit ditunjuk dan mudah diremehkan.
Apa sebenarnya pekerjaan yang tak terlihat itu
Sosiolog Allison Daminger mewawancarai puluhan pasangan dan menemukan bahwa bagian berpikir dari menjalankan rumah tangga terbagi menjadi empat langkah. Kamu mengantisipasi suatu kebutuhan sebelum jadi masalah (popoknya hampir habis). Kamu mengidentifikasi pilihannya (yang mana, dari mana, dengan harga berapa). Kamu memutuskan. Lalu kamu memantau untuk memastikan itu benar-benar beres dan tidak diam-diam terlewat.
Mencuci sepiring adalah satu tugas. Piring itu selesai begitu bersih. Mengantisipasi dan memantau tidak pernah selesai. Keduanya berjalan di latar belakang sepanjang hari, setiap hari, dan paling berat justru saat kamu sedang berusaha beristirahat.
Inilah bagian yang mengejutkan banyak orang. Daminger menemukan bahwa bahkan pada pasangan yang membagi tugas-tugas fisik dengan cukup adil, dua dari empat langkah itu hampir selalu jatuh ke perempuan: mengantisipasi dan memantau. Memutuskan biasanya dibagi bersama. Memperhatikan dan mengingat-ingat tidak. Jadi sepasang kekasih bisa membagi pekerjaan yang terlihat persis di tengah dan tetap saja satu orang memikul seluruh beban dari apa yang datang sebelum dan sesudahnya.
Kenapa begitu melelahkan padahal kelihatannya sepele
Dari luar, beban mental tampak seperti tak ada apa-apanya. Tidak ada yang melihatmu mengingat bahwa surat izin harus dikumpulkan Jumat. Tidak ada wastafel penuh bukti. Ketidakterlihatan itulah sebagian besar masalahnya. Sulit merasa dihargai untuk pekerjaan yang tak dilihat siapa pun, dan sulit meminta bantuan untuk tugas yang tak bisa kamu tunjuk.
Dampaknya bisa diukur. Sebuah studi terhadap lebih dari 300 ibu di USC menemukan bahwa perempuan menangani kira-kira tiga perempat dari kerja kognitif rumah tangga, kesenjangan yang lebih besar daripada untuk tugas fisik. Dan justru beban mental ini, lebih daripada tugas langsung, yang berkaitan dengan stres yang lebih tinggi, kepuasan hubungan yang lebih rendah, dan kelelahan. Peneliti di Radcliffe Institute, Harvard, menggambarkannya sebagai penguras "ruang pikiran" dan "bandwidth", sumber daya yang tak terlihat kalau kamu hanya menghitung jam yang dihabiskan untuk menggosok.
Semua ini bukan berarti pasanganmu malas atau tak peduli. Sering kali orang yang memikul lebih sedikit memang benar-benar belum melihatnya, karena inti dari beban mental adalah ia tak terlihat. Itu juga kabar baiknya. Yang tak terlihat bisa dibuat terlihat. Dan begitu dua orang sama-sama bisa melihatnya, mereka benar-benar bisa membaginya.
Ada alasan lain kenapa ia menumpuk diam-diam. Rumah tangga cenderung punya satu orang andalan, orang yang dituju semua orang ketika sekolah menelepon, ketika seorang anak tak bisa menemukan sepatu bolanya, ketika ada yang harus diputuskan sekarang juga. Menjadi andalan itu sebuah pekerjaan tersendiri. Artinya kamu tak pernah benar-benar lepas tugas, karena kapan saja kamu mungkin dibutuhkan untuk tahu jawabannya. Berbagi beban berarti lebih dari sekadar membagi tugas. Artinya ada dua orang yang benar-benar bisa diandalkan rumah tangga.
Membawanya ke terang
Triknya bukan menyerahkan beberapa tugas rumah tambahan. Triknya adalah menyerahkan urusan memperhatikan dan mengingat, bagian yang hidup di kepalamu. Itu butuh percakapan sungguhan, bukan komentar sambil lalu di tengah malam yang penuh tekanan.
- Pilih momen yang tenang, bukan saat panas. Jangan mengangkat ini di tengah pertengkaran atau saat kamu sedang berdiri di depan wastafel. Katakan sesuatu seperti, "Ada hal yang selama ini aku pikul dan aku ingin kita lihat bersama." Kamu sedang mengajak rekan setim masuk, bukan mengajukan keluhan.
- Buat yang tak terlihat menjadi terlihat. Selama seminggu, catat tugas-tugas mental begitu muncul. Pesan yang kamu kirim, janji yang kamu atur, hitungan berjalan tentang apa yang hampir habis. Kebanyakan orang tercengang melihat panjangnya daftar itu, termasuk pasangan yang tak tahu daftar itu ada.
- Serahkan pekerjaan utuh, bukan langkahnya. Inilah yang mengubah keadaan. Jangan minta pasanganmu "membantu" urusan baju anak. Serahkan urusan bajunya, dari awal sampai akhir: memperhatikan mana yang sudah kekecilan, ukurannya, anggarannya, pemesanannya, semuanya. Kalau kamu hanya mendelegasikan pelaksanaannya dan tetap memegang keputusannya, kamu masih jadi manajernya, dan menjadi manajer itulah bagian yang berat.
- Relakan cara dia mengerjakannya. Kalau kamu menarik kembali seluruh pekerjaan begitu hasilnya tak sesuai caramu, diam-diam pekerjaan itu jadi milikmu lagi. Cara yang berbeda dalam menanganinya adalah harga dari benar-benar membaginya. Sistemnya tak harus sama dengan sistemmu agar dianggap sah.
- Tetapkan dan tinjau lagi. Sepakati siapa yang benar-benar memegang apa, lalu evaluasi beberapa minggu kemudian. Beberapa serah terima tak langsung berhasil pada percobaan pertama. Itu wajar. Kamu sedang membangun ulang pola yang sudah bertahun-tahun mengeras.
Kalau kamu yang selama ini tak memikulnya
Kalau kamu membaca ini dan mengenali dirimu sebagai pasangan yang selama ini ringan bebannya, pengakuan itu adalah titik baliknya. Jangan jadi defensif, dan jangan menunggu disodori daftar. Pilih satu wilayah dan pegang sepenuhnya, termasuk bagian yang hidup di kepalamu. Tanyakan, "Apa yang tidak aku lihat?" lalu benar-benar lihat. Mengambil tanggung jawab penuh atas satu area saja, dari awal sampai akhir, mengembalikan sesuatu yang sangat dibutuhkan pasanganmu: kemampuan untuk benar-benar berhenti memikirkannya.
Kalau terus berulang
Sebagian dari ini bisa kamu bereskan lewat beberapa percakapan yang jujur. Sebagian lagi bertumpu pada hal yang lebih tua dan lebih dalam, keyakinan tak terucap bahwa ini sekadar "pekerjaan perempuan", atau alur lama dari cara kalian masing-masing dibesarkan. Kalau kalian terus mendarat di pertengkaran yang sama, atau salah satu dari kalian mulai meluncur ke kebencian atau kelelahan yang sungguhan, terapis pasangan bisa membantu kalian mengubah polanya, bukan cuma daftar tugasnya. Itu bukan tanda bahwa hubungan kalian gagal. Itu dua orang yang memutuskan kemitraan mereka layak dirawat.
Dan kalau beban yang kamu pikul sudah berbalik menjadi sesuatu yang lebih berat, rasa cemas yang terus-menerus, kelelahan yang tak tersentuh tidur, kehampaan yang tak bisa kamu lepaskan, tolong bicara dengan dokter atau profesional kesehatan mental. Tertarik terlalu tipis dalam waktu lama bukanlah cacat karakter, dan kamu tak harus mengarunginya sendirian dengan mengepalkan tangan.
Tujuan di sini tak pernah berupa pembukuan yang persis seimbang, dihitung tugas demi tugas. Yang dituju adalah lega karena tahu ada orang lain yang ikut mengawasi jalan bersamamu, bahwa bukan cuma kamu yang akan mengingat. Beban yang dibagi jadi lebih ringan karena alasan yang jelas. Ia juga lebih ringan karena akhirnya kamu boleh meletakkannya.
Sumber
- American Sociological Review, The Cognitive Dimension of Household Labor (Allison Daminger)
- USC Dornsife, Moms think more about household chores — and this cognitive burden hurts their mental health
- Radcliffe Institute, Harvard University, The Unseen Inequity of Cognitive Labor