Tips singkat
- Tangkap uluran kecil pasanganmu malam ini.
- Ucapkan terima kasihnya dengan lantang.
- Bersatu melawan kelelahan, bukan satu sama lain.
Di suatu titik pada tahun pertama bersama bayi yang baru lahir, banyak pasangan mengalami satu versi dari kesadaran yang sama. Kalian berdiri di dapur pukul 9 malam, salah satu memegang botol susu dan yang lain melipat baju-baju mungil, dan kalian sadar belum berbicara sungguhan selama berhari-hari. Bukan pertengkaran. Bahkan bukan ketegangan. Hanya dua orang menjalankan estafet melelahkan yang sama, mengoper tongkat, nyaris tak saling menatap mata.
Jarak yang sunyi itu sangat umum, dan itu tak berarti ada yang salah dengan dirimu, pasanganmu, atau kalian berdua bersama. Itu berarti kalian baru saja melewati salah satu perubahan terbesar yang bisa ditanggung sebuah hubungan, sebagian besar dalam keadaan kurang tidur.
Inilah bagian yang tak diberitahukan siapa pun saat pesta menyambut bayi. Dalam serangkaian studi terkenal dari Gottman Institute, sekitar dua pertiga pasangan melaporkan penurunan kepuasan hubungan dalam tiga tahun pertama setelah seorang anak hadir. Sebuah meta-analisis tahun 2022 yang menggabungkan puluhan studi menemukan bentuk yang sama: penurunan kepuasan yang nyata dan terukur sepanjang tahun pertama pascamelahirkan yang berlanjut sampai tahun kedua. Jadi kalau hubunganmu terasa lebih berat dari sebelumnya, kamu jelas-jelas berada di pihak mayoritas. Kamu tidak sedang gagal dalam hal ini.
Tetapi ada sisi lain yang layak direnungkan. Kira-kira sepertiga pasangan tidak merosot. Sebagian justru keluar lebih dekat. Para peneliti telah menelaah dengan saksama apa yang berbeda dari yang dilakukan pasangan-pasangan itu, dan jawabannya menggembirakan, karena hampir tak ada yang berasal dari keberuntungan.
Mengapa anak menegangkan bahkan hubungan yang baik
Ada gunanya melihat apa yang sebenarnya terjadi, karena ketegangan itu jarang berasal dari kurangnya cinta.
Seorang bayi hadir dan total pekerjaan di rumah tanggamu meledak. Menyusui, mengganti popok, menenangkan, mencuci, janji ke dokter, daftar mental tanpa henti tentang apa yang dibutuhkan anak berikutnya. Dirimu hanya sebanyak itu untuk dibagi-bagi, jadi hal pertama yang terpangkas biasanya hal yang tak punya tenggat: satu sama lain. Kencan jadi kenangan. Obrolan panjang yang ngalor-ngidul menyusut jadi urusan logistik. Keintiman dan kedekatan fisik sering kali memudar sejenak juga.
Lalu ada beban yang tak terlihat. Seseorang di rumah memantau kapan popok hampir habis, kapan pemeriksaan berikutnya, giliran siapa menyusui malam ini, apakah si bayi sudah terlalu lama tak tidur siang. Pekerjaan tak terlihat berupa mengantisipasi dan mengelola itu kini punya nama, beban mental, dan penelitian secara konsisten menemukan bahwa ia jatuh lebih berat pada satu pasangan, paling sering sang ibu. Sebuah studi tentang orang tua baru menemukan bahwa konflik cenderung paling rendah bukan ketika pekerjaan dibagi persis di tengah, melainkan ketika orang yang menanggung lebih banyak merasa pembagiannya sungguh adil. Keadilan, ternyata, adalah sesuatu yang kamu rasakan, bukan sekadar bagan di kulkas.
Tumpuk kelelahan di atas semua itu. Orang yang lelah lebih ketus satu sama lain. Hal-hal kecil terasa menghantam. Versi dirimu yang dulu sabar kini berjalan dengan empat jam tidur dan secangkir kopi yang sudah dingin. Tak satu pun dari ini berarti hubungannya rusak. Itu berarti hubungannya sedang menanggung beban.
Ada satu bagian lagi yang membuat banyak pasangan lengah. Kalian berdua mungkin sedang berkabung atas versi-versi hidup lama kalian pada garis waktu yang berbeda, dan diam-diam kesal karena yang lain seakan tak merasakannya dengan cara yang sama. Salah satu merindukan spontanitas. Yang lain rindu dilihat sebagai lebih dari sekadar orang tua. Tak satu pun dari kalian salah, dan menyebutnya terang-terangan biasanya melunakkannya lebih cepat daripada menunggu pasanganmu membaca pikiranmu. Kekesalan yang sungguh merusak hampir selalu jenis yang tak pernah diucapkan.
Hal yang terus dilakukan pasangan yang bertahan
Ketika John dan Julie Gottman menelaah apa yang memisahkan pasangan yang tetap dekat dari yang menjauh, jawabannya lebih kecil dari yang kamu duga. Itu bukan gestur megah atau komunikasi sempurna. Itu seribu momen kecil.
Keluarga Gottman menyebutnya ajakan untuk terhubung. Sebuah ajakan adalah setiap uluran kecil ke arah pasanganmu. Sebuah desahan yang kamu harap mereka tanyakan. "Lihat ini." Sebuah tangan di pundak. Setengah candaan. Setiap satunya adalah undangan kecil: perhatikan aku, bersamaku sebentar. Kamu bisa berpaling ke arahnya, berpaling menjauh, atau berpaling melawannya.
Di laboratorium mereka, pasangan yang masih bersama bertahun-tahun kemudian telah berpaling ke arah ajakan satu sama lain sekitar 86 persen dari waktu. Pasangan yang kemudian berpisah hanya berpaling ke arahnya 33 persen dari waktu. Momen-momen kecil yang sama. Hubungan yang sangat jauh berbeda.
Ini kabar yang sungguh baik bagi para orang tua, karena berpaling ke arah sebuah ajakan butuh hitungan detik, dan kamu tak perlu pengasuh atau malam yang luang untuk melakukannya. Ketika kalian berdua sama-sama remuk dan bayi akhirnya terlelap, ajakan itu mungkin sekadar pasanganmu berkata "malam ini berat sekali ya." Berpaling ke arahnya bisa sekecil meletakkan ponsel lalu berkata "iya, berat sekali. Kamu baik-baik saja?" Itu sebuah tabungan. Cukup banyak dari itu, kata keluarga Gottman, dan sebuah hubungan membangun semacam cadangan yang membawanya melewati masa-masa sulit.
Langkah-langkah kecil yang benar-benar cocok dengan hidup orang tua
Tak ada yang menyerahkan daftar ini kepadamu yang punya lebih banyak waktu darimu. Intinya bukan menambah tumpukan. Intinya menggunakan sisa-sisa perhatian yang kamu punya sedikit lebih sengaja.
- Ketika pasanganmu mengulurkan diri kepadamu lewat komentar atau tatapan kecil, cobalah menangkapnya. Bahkan "ceritakan sebentar lagi ya, aku mau dengar" yang lelah pun terhitung. Menangkapnya lebih penting daripada waktunya.
- Ucapkan rasa terima kasih dengan lantang. "Terima kasih sudah ambil giliran pagi." "Kamu telaten sekali dengannya." Ketika sebuah hubungan sedang tegang, hal-hal hangat dipikirkan tetapi tak terucapkan. Ucapkanlah.
- Bicarakan bebannya secara jujur, sebelum kekesalan mengeras. Bukan "kamu tidak pernah bantu," yang memulai pertengkaran, melainkan "aku menanggung banyak perencanaan di kepalaku dan itu menggerusku. Bisakah kita lihat bareng?" Bidik pembagian yang kalian berdua rasakan adil, bukan yang secara matematis setara.
- Lindungi satu ritual kecil yang sungguh milik kalian. Sepuluh menit kopi sebelum seisi rumah bangun. Jalan-jalan dengan kereta dorong sambil membicarakan apa pun selain si bayi. Tak harus lama untuk terhitung.
- Turunkan standar dengan sengaja. Cucian piring bisa menunggu. Duduk bersama di sofa selama lima belas menit yang tenang bukanlah kemalasan. Itu perawatan.
- Sentuhan yang tak berkaitan dengan tugas. Pelukan yang bertahan beberapa detik lebih lama dari biasanya, tangan yang digenggam selama perjalanan. Kedekatan fisik sering pergi paling dulu dan kembali paling lambat, dan gestur kecil membantu menjembatani celahnya.
Kamu tak akan melakukan ini dengan sempurna, dan kamu tak perlu. Pasangan yang tetap dekat bukanlah yang tak pernah melewatkan satu ajakan pun. Mereka adalah yang cukup sering mengulurkan diri satu sama lain, dan kembali memutar saat sudah ketus atau dingin. "Tadi aku ketus padamu, maaf, aku cuma lelah sekali" memperbaiki lebih banyak daripada yang kamu kira.
Jadilah satu tim melawan masalahnya, bukan melawan satu sama lain
Satu pergeseran mengubah lebih banyak daripada kebiasaan tunggal mana pun: memutuskan, dengan lantang, bahwa kalian berdua berada di pihak yang sama. Musuhnya bukan pasanganmu. Musuhnya adalah kelelahan, daftar tugas, kolik, malam panjang yang menanti. Ketika sesuatu kacau pukul 3 pagi, mudah untuk mulai menghitung skor, siapa berbuat lebih banyak, siapa yang tidur, giliran siapa tadi. Menghitung skor itu diam-diam mengubah kalian menjadi lawan.
Rekan setim melakukan sesuatu yang berbeda. Mereka saling menanyakan kabar. "Kamu butuh apa malam ini?" Mereka bergantian tanpa menghitung. Mereka menganggap yang lain sedang berusaha, bahkan saat usaha itu belum mengena. Ketika kalian sungguh-sungguh satu tim, malam yang berat adalah sesuatu yang kalian lewati bersama alih-alih sesuatu yang dilakukan salah satu kepada yang lain.
Ini juga salah satu hal paling berguna yang bisa kamu contohkan untuk anakmu, walau itu bonus, bukan intinya. Anak-anak menyerap cuaca emosi rumah. Kemitraan yang teguh dan penuh kasih adalah bagian dari apa yang membuat mereka merasa aman, jauh sebelum mereka bisa menjelaskan mengapa.
Jarak itu tak berakhir bersama tahun-tahun bayi
Mudah untuk membaca semua ini sebagai masalah kabut bayi baru lahir, sesuatu yang lenyap begitu semua orang bisa tidur sepanjang malam. Masa awal memang yang paling intens. Tetapi tarikan lambat menjadi sesama pengelola rumah tangga alih-alih sepasang kekasih tak berhenti saat popok berhenti. Ia hanya berganti bentuk.
Dengan anak balita dan anak usia sekolah, urusan logistik berlipat ganda. Olahraga, jemput sekolah, pesta ulang tahun, hari sakit, dengung pelan tanpa henti tentang siapa menangani apa. Bahaya di fase ini lebih halus daripada kelelahan. Bahayanya adalah efisiensi. Kalian menjadi begitu pandai menjalankan keluarga sebagai satu unit sampai lupa menjadi sepasang kekasih di dalamnya. Kalian bisa menghabiskan bertahun-tahun sebagai rekan setim yang hebat dan perlahan menjadi orang asing.
Meta-analisis yang melacak kepuasan menemukan bahwa penurunannya tidak pulih dengan sendirinya setelah satu tahun. Ia berlanjut. Itu bukan alasan untuk murung. Itu alasan untuk memperlakukan keterhubungan sebagai sesuatu yang terus kamu rawat, seperti menyiram tanaman, bukan sesuatu yang kamu perbaiki sekali lalu lupakan. Pasangan yang baik dalam jangka panjang adalah yang terus mengulurkan diri, terus mengucapkan hal yang baik, terus melindungi sedikit waktu, tahun demi tahun. Kebiasaannya tak kedaluwarsa. Begitu pula hasilnya.
Kalau ada satu cara pandang baru untuk dibawa dari semua ini, itu adalah bahwa hubungan tidak ditahan dulu sampai anak-anak besar. Tahun-tahun saat tanganmu penuh itulah hubungannya. Kedekatan yang kalian bangun di dalamnya, lewat serpihan dan momen-momen kecil, adalah hal yang sebenarnya menyusun keluargamu.
Ketika ini lebih dari sekadar sulit yang wajar
Masa sulit setelah bayi memang sudah diperkirakan. Namun, beberapa hal pantas mendapat lebih dari kesabaran dan obrolan yang baik.
Kalau salah satu dari kalian bergulat dengan sesuatu yang lebih dari kelelahan biasa, kesedihan yang menetap, keputusasaan, kecemasan yang tak kunjung reda, atau rasa tak seperti dirimu sendiri di minggu-minggu dan bulan-bulan setelah melahirkan, itu layak ditanggapi serius dan dibawa ke dokter. Depresi dan kecemasan pascamelahirkan itu umum dan bisa diobati, dan keduanya menimpa orang tua yang melahirkan maupun yang tidak. Itu bukan cacat watak dan bukan sesuatu untuk ditahan sendirian dengan sekuat tenaga.
Dan kalau jarak di antara kalian tak kunjung pulih, kalau pertengkaran yang sama terus berulang, kalau penghinaan atau sikap menutup diri sudah merayap masuk, atau kalian sekadar tak bisa menemukan jalan kembali ke satu sama lain, terapis pasangan bukanlah tanda bahwa kalian gagal. Itu salah satu hal yang lebih efektif yang bisa kamu lakukan. Mengulurkan tangan untuk bantuan sejak dini, selagi masih ada kehangatan untuk dibangun, cenderung lebih berhasil daripada menunggu sampai kalian nyaris tak bicara.
Musim ketika anak-anakmu masih kecil sungguh salah satu yang paling berat bagi sebuah hubungan, sekaligus salah satu yang paling lumrah untuk terasa berat. Kedekatan yang kamu rindukan tidak hilang. Sebagian besar ia menunggu di momen-momen kecil, yang masih bisa kamu raih malam ini, selelah apa pun kamu.
Sumber
- The Gottman Institute, Romantic Relationships Take a Dive After Baby Arrives (According to Research)
- The Gottman Institute, Want to Improve Your Relationship? Start Paying More Attention to Bids
- Frontiers in Psychology, Transition to Parenthood and Marital Satisfaction: A Meta-Analysis
- PubMed Central, Division of Household and Childcare Labor and Relationship Conflict Among Low-Income New Parents