Skip to main content
Sedang krisis atau berpikir untuk menyakiti diri sendiri? Kamu tidak sendirian. Cari layanan bantuan →

KELUARGA, TEMAN & MELEPASKAN · PUTUS CINTA

Apa yang bisa diajarkan sebuah perpisahan, tanpa toxic positivity

Putus cinta adalah kehilangan yang nyata, dan berpura-pura sebaliknya hanya memperlambatmu. Berikut cara membiarkannya menyakitkan, apa yang sebenarnya bisa ia tunjukkan, dan kapan pelajarannya bisa menunggu.

Dua perempuan tertawa sambil menatap ponsel mereka.

Photo by Vitaly Gariev on Unsplash

Tips singkat

  • Tulis kenapa hubungan itu berakhir.
  • Berhenti mengintip profilnya untuk sekarang.
  • Berduka dulu, cari pelajarannya nanti.

Seseorang akan mengatakannya padamu dalam minggu pertama. Mungkin lebih dari satu orang. "Semua terjadi karena ada alasannya." "Kamu akan dapat yang lebih baik." "Saat satu pintu tertutup." Mereka bermaksud baik. Mereka menyayangimu, dan rasa sakitmu membuat mereka tak nyaman, jadi mereka meraih hal cerah terdekat dan menyodorkannya padamu seperti segelas air.

Dan kamu berdiri di situ memegangnya, entah kenapa merasa lebih sendirian dibanding sebelum mereka bicara.

Kalau itu kondisimu sekarang, mulailah dari sini: putus cinta adalah kehilangan. Bukan pelajaran yang gagal kamu pahami cukup cepat, bukan ujian sikapmu. Sebuah kehilangan. Kelegaan dan maknanya, kalau memang datang, datang belakangan, dan datang sesuai jadwalnya sendiri. Mereka tak bisa dipaksa cepat oleh siapa pun yang ngotot bahwa kamu seharusnya sudah merasakannya.

Kenapa rasanya sesakit itu

Kamu tidak sedang berlebihan. Nyeri setelah putus bukan tanda bahwa kamu terlalu lengket atau kurang menyayangi dirimu. Otakmu sedang melakukan persis apa yang dilakukan otak saat sesuatu yang memang dirancang untuk diinginkannya tiba-tiba hilang.

Antropolog Helen Fisher dan rekan-rekannya memasukkan orang-orang yang baru saja ditinggalkan pasangannya ke dalam pemindai otak dan menunjukkan foto orang yang mengakhiri hubungan itu. Bagian-bagian yang menyala bukan cuma yang untuk kesedihan. Mereka adalah bagian yang terkait dengan motivasi, imbalan, dan dorongan kuat, sirkuit yang sama yang menggerakkan kecanduan. Menatap wajah seseorang yang baru saja meninggalkanmu terbaca di otak mirip dengan menginginkan zat yang tak bisa kamu dapatkan.

Itu memberitahumu sesuatu yang berguna. Dorongan untuk mengiriminya pesan, mengintip profilnya, melewati tempat kalian biasa bertemu, bukanlah kelemahan. Itu dorongan kuat, berjalan di atas mesin lama yang dibangun untuk menjagamu tetap terikat pada orang-orang yang kamu cintai. Mengetahuinya takkan membuatnya lenyap. Tapi ia bisa mencegahmu menambahkan lapisan kedua rasa sakit, yaitu rasa malu "kenapa aku tak bisa move on saja", di atas yang pertama.

Itu juga kenapa waktu sungguh penting. Dorongan kuat memudar saat tak diberi makan. Setiap hari kamu tak menyiram api itu, apinya mengecil sedikit, bahkan di hari-hari yang tak terasa begitu.

Masalah dengan "good vibes only"

Sekarang ada namanya untuk tekanan ceria yang mengikuti putus cinta. Toxic positivity. Itu desakan agar kamu tetap riang apa pun yang sebenarnya terjadi, dan pesan diam di baliknya: kesedihanmu adalah masalah yang harus diperbaiki, bukan perasaan yang harus dirasakan.

Kedengarannya tak berbahaya. Tidak sepenuhnya begitu. Saat orang didorong melihat sisi cerah sebelum mereka siap, hasil yang paling umum bukan kelegaan. Tapi keterasingan. Kamu belajar bahwa perasaanmu yang sebenarnya tidak diterima, jadi kamu berhenti membaginya, dan menanggungnya sendirian. Para klinisi yang menulis soal ini menunjukkan bahwa kepositifan yang dipaksakan bisa membuat orang merasa malu atas duka yang wajar, dan lebih kecil kemungkinannya meminta bantuan saat membutuhkannya.

Ada masalah yang lebih dalam juga. Emosi yang kamu tolak untuk dirasakan tidak pergi dengan sopan. Riset yang membandingkan cara orang menangani perasaan menyakitkan menemukan pola yang konsisten: berusaha menekan sebuah emosi cenderung lebih buruk hasilnya daripada membiarkan dirimu merasakannya. Penerimaan, sekadar membiarkan perasaan itu ada, berulang kali unggul dibanding penekanan. Duka yang kamu izinkan untuk kamu rasakan akan melewatimu. Duka yang kamu telan cenderung menunggu.

Jadi kebaikan pertama yang bisa kamu berikan pada dirimu adalah membuang tenggat. Kamu tidak berutang pemulihan sesuai jadwal pada siapa pun. Kamu boleh sedih atas sesuatu yang memang menyedihkan.

Biarkan ia jadi kehilangan yang nyata

Sebelum putus cinta bisa mengajarimu apa pun, ia harus diizinkan menyakitkan. Berduka karenanya bukan berkubang dalam kesedihan. Itu cara luka menutup.

Beberapa hal yang membantu saat kamu di dalamnya:

  • Sebutkan apa yang sebenarnya kamu kehilangan. Jarang sekali cuma orangnya. Tapi rutinitas pagi tiap Minggu, lelucon kalian berdua, versi masa depan yang sudah setengah kamu bangun di kepalamu. Duka jadi membingungkan saat kamu tak membiarkan dirimu menghitung semuanya. Kamu boleh merindukan rencananya, bukan cuma pasangannya.
  • Berhenti membuka luka kembali. Mengintip profilnya, membaca ulang pesan lama, menjaga jalur belakang lewat teman bersama, ini terasa seperti tetap terhubung. Sebagian besar justru terus memberi makan dorongan kuat itu. Kamu tak harus membuat pernyataan dramatis. Kamu cukup diam-diam berhenti melewati pintu tertentu itu untuk sementara.
  • Rasakan di tubuhmu, bukan cuma di kepalamu. Menangislah kalau memang datang. Bergerak, jalan, tidur, makan sesuatu yang nyata. Duka itu bersifat fisik, dan hal-hal mendasar yang akan kamu berikan pada teman yang sakit adalah hal mendasar yang kamu butuhkan sekarang.
  • Biarkan orang masuk, orang yang tepat. Bukan mereka yang memburu-burumu ke sisi cerah. Tapi mereka yang bisa menemanimu saat masih gelap dan tak butuh kamu untuk segera baik-baik saja.

Tak satu pun dari ini menuntutmu menemukan hikmahnya. Kamu cuma sedang menemani dirimu sendiri melewati sesuatu yang berat. Itu sudah cukup banyak untuk sekarang.

Ingatanmu akan membohongimu

Ada hal aneh yang dilakukan duka, dan itu layak diberi peringatan. Dalam minggu-minggu setelah putus, pikiranmu cenderung mengedit hubungan itu. Bagian-bagian buruknya jadi lembut dan kabur. Bagian-bagian baiknya disorot hangat. Kamu akan mendapati dirimu memutar ulang malam terindah yang pernah kalian lalui bersama dan entah kenapa lupa pada pertengkaran yang datang pagi setelahnya.

Sistem dorongan kuat yang dijalankan otak itu sebagian penyebabnya. Saat kamu sedang dalam masa "sakau" dari seseorang, pikiranmu terus menyajikan cuplikan terbaiknya, karena cuplikan terbaik itulah yang membuatmu ingin kembali. Ia tidak membohongimu dengan sengaja. Ia cuma sangat termotivasi.

Jadi kalau kamu mendapati dirimu berpikir "mungkin tak seburuk itu, mungkin akulah masalahnya, mungkin aku harus menghubunginya", berhentilah sebelum bertindak atasnya. Pikiran itu sering kali dorongan kuat yang bicara, bukan penilaianmu yang jernih. Pertahanan kecil yang praktis: saat kamu masih berpikir jernih, menjelang akhir, kamu mungkin punya alasan-alasan yang nyata. Tuliskan di tempat yang bisa kamu temukan. Bukan untuk memelihara dendam. Cuma supaya di malam saat ingatanmu mencoba menjual dongeng padamu, kamu punya catatan yang lebih jujur untuk mengeceknya.

Inilah juga kenapa orang memberi nasihat soal putus bersih, dan kenapa itu layak diikuti. Setiap kontak yang diperbarui, setiap "cuma mau lihat kabarmu", menyodorkan cuplikan terbaik itu rekaman segar dan mengulang dari awal jam pemulihan. Jeda bukan hukuman, baik bagi mereka maupun bagimu. Itu ruang yang dibutuhkan penilaianmu untuk pulih kembali.

Membangun kembali bagian dirimu yang menghilang

Hubungan yang panjang diam-diam mengambil alih lahan dalam identitasmu. Akhir pekanmu, rutinitasmu, teman-teman yang kamu temui kebanyakan sebagai pasangan, pertanyaan kecil sehari-hari soal apa yang akan ia pikirkan. Saat hubungan itu berakhir, banyak dari itu jadi kosong. Sebagian alasan kenapa putus cinta bisa terasa membingungkan, bukan cuma menyedihkan, adalah karena kamu kehilangan sebagian rasa tentang siapa dirimu dan bagaimana hari-harimu terbentuk.

Bagian ini tak perlu kamu tunggu. Sementara duka melakukan kerjanya yang perlahan, kamu bisa mulai, dengan lembut, menata kembali strukturmu sendiri.

  • Ambil kembali satu hal yang dulu milikmu sebelum dia, atau yang kamu letakkan demi hubungan itu. Sebuah hobi, persahabatan yang sempat sunyi, tempat yang dulu kamu datangi sendirian dan kamu sukai.
  • Pasang beberapa jangkar kecil dalam minggumu. Jalan kaki rutin, panggilan tiap Minggu ke seseorang yang menyayangimu, satu hidangan yang benar-benar kamu masak. Waktu kosong adalah tempat dorongan kuat dan pemutaran ulang melakukan hal terburuknya. Struktur yang lembut mendesak mereka keluar.
  • Biarkan persahabatan yang menjadi "milik kami" jadi milikmu lagi. Sebagian orang yang dulu kamu temui sebagai pasangan masih senang menemuimu sebagai satu orang. Kamu mungkin harus melangkah lebih dulu. Biasanya itu sepadan.

Tak satu pun dari ini soal menyibukkan diri supaya tak perlu merasakan apa-apa. Justru sebaliknya. Kamu sedang membangun kembali hidup yang cukup kokoh untuk menampung perasaan-perasaan itu selagi kamu merasakannya.

Apa yang bisa ia tunjukkan, pada akhirnya

Inilah versi jujur dari hal yang sedang dicoba dikatakan orang-orang ceria itu, dilucuti dari tekanannya.

Hubungan yang berakhir telah menghabiskan berbulan-bulan atau bertahun-tahun menunjukkan hal-hal tentang dirimu, dan begitu rasa sakit akutnya mereda, sebagian dari itu jadi terbaca. Bukan sebagai moral yang rapi. Lebih seperti beberapa hal kecil yang kamu sadari yang boleh kamu pilih untuk disimpan.

Kamu mungkin menyadari selisih antara apa yang kamu katakan kamu inginkan dan bagaimana kamu sebenarnya berperilaku. Kamu mungkin melihat pola yang sudah lebih dari sekali kamu jalani, tipe orang yang kamu raih, momen ketika kamu cenderung diam, hal yang tak bisa kamu paksakan untuk diminta. Kamu mungkin belajar di mana batasmu yang sebenarnya, yang kamu bujuk dirimu untuk tidak menghormatinya. Kamu mungkin mengetahui bahwa kamu bisa bertahan dari sesuatu yang kamu yakini akan menghancurkanmu, yang merupakan informasi tersendiri.

Kuncinya adalah waktu. Ini bukan pelajaran yang kamu peras di hari ketiga dengan kekuatan kemauan. Mereka cenderung muncul sendiri, berminggu-minggu atau berbulan-bulan kemudian, saat mandi atau saat jalan kaki, begitu sistem sarafmu berhenti membunyikan alarm. Kalau kamu memburu maknanya terlalu dini, biasanya kamu cuma akan menemukan menyalahkan diri yang mengenakan kostum pola pikir bertumbuh. Tunggu sampai kamu bisa menengok ke belakang tanpa meringis. Lalu lihatlah.

Dan sebagian putus cinta tak punya pelajaran besar, selain "itu memang tidak tepat, dan sekarang sudah berakhir". Itu juga boleh. Tak setiap hal menyakitkan diam-diam adalah hadiah. Kadang satu-satunya yang bisa diambil adalah bahwa kamu berhasil melewatinya, dan kamu masih di sini.

Saat kesedihan butuh lebih dari sekadar waktu

Duka putus cinta yang biasa awalnya keras dan perlahan menjadi lebih tenang. Kamu mulai punya lebih banyak jam yang baik, lalu lebih banyak hari yang baik. Tak ada jadwal pasti, tapi arah umum selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan adalah menuju pijakan yang lebih stabil.

Beberapa tanda layak diperhatikan lebih dekat. Kalau berminggu-minggu berubah jadi berbulan-bulan tanpa kelegaan sama sekali. Kalau kamu tak bisa makan, tak bisa tidur, atau tak bisa berfungsi di tempat kerja atau dengan orang-orang yang kamu sayangi. Kalau kamu bersandar pada alkohol atau apa pun untuk melewati malam-malam. Kalau patah hati itu sudah condong menjadi rasa putus asa yang datar dan berat yang mewarnai segalanya, atau kamu mendapati dirimu berpikir bahwa hidup tak layak dijalani.

Khususnya yang terakhir itu: tolong jangan menunggunya berlalu sendirian. Bicaralah dengan doktermu, terapis, atau saluran krisis. Meminta bantuan saat duka berhenti bergerak bukanlah reaksi yang berlebihan, dan itu bukan mengakui bahwa putus cinta itu mengalahkanmu. Itu mendapatkan bantuan yang tepat untuk cedera yang nyata, sama seperti yang akan kamu lakukan untuk cedera yang bisa kamu lihat.

Putus cinta akan mengajarimu apa pun yang akan ia ajarkan. Ia cuma minta untuk diduka terlebih dahulu. Bersabarlah pada dirimu seperti kamu akan bersabar pada seseorang yang kamu cintai yang sedang mengalami hal yang persis sama. Kamu takkan pernah menyuruhnya cepat-cepat merasa lebih baik. Jangan katakan itu juga pada dirimu.

Sumber

Sebelum kamu pergi, sepatah kata soal perawatan

KEEP CALM menyediakan alat bantu diri edukatif yang gratis. Ini bukan nasihat medis, diagnosis, atau terapi, dan bukan pengganti perawatan profesional. Jika ada sesuatu di sini yang terasa lebih dari sekadar stres sehari-hari, menghubungi profesional adalah langkah yang kuat dan masuk akal.

If you are in crisis or thinking about harming yourself, you are not alone. In the US, call or text 988 (Suicide & Crisis Lifeline, 24/7), text HOME to 741741 (Crisis Text Line), or call 911 in an emergency.