Skip to main content
Sedang krisis atau berpikir untuk menyakiti diri sendiri? Kamu tidak sendirian. Cari layanan bantuan →

HUBUNGAN · KEDEKATAN

Cara menyambung kembali setelah kalian saling menjauh

Menjauh jarang terjadi dalam satu momen. Ia terjadi dalam seratus momen kecil yang nyaris tak kamu sadari. Kabar baiknya, kedekatan kembali dengan cara yang sama seperti ia pergi: dalam momen-momen kecil, dengan sengaja.

Seorang pria dan seorang perempuan duduk di sebuah bangku

Photo by Olga Nayda on Unsplash

Tips singkat

  • Kirim pesan yang terus hampir kamu kirim.
  • Hidupkan kembali satu ritual kecil bersama.
  • Ajukan satu pertanyaan sungguhan, lalu dengarkan.

Tidak ada yang memutuskan untuk menjauh. Tidak ada satu pagi pun saat kamu bangun lalu memilih untuk merasa cuma seperti teman sekamar, atau merasa teman yang dulu kamu telepon tiap hari kini cuma kamu kirimi pesan saat ulang tahun. Itu terjadi di bawah bagian-bagian sibuk hidup. Beberapa kabar yang terlewat. Beberapa malam saat kalian berdua cuma menggulir layar. Berbulan-bulan bersikap sopan alih-alih dekat. Lalu suatu hari kamu menatap ke seberang meja, atau menatap sebuah nama di ponselmu yang tak kamu ketuk setahun ini, dan kamu merasakan jaraknya.

Kalau kamu sedang merasakan jarak itu sekarang, inilah hal pertama yang layak dikatakan: menjauh bukanlah vonis. Itu gambaran tentang di mana keadaan sekarang, bukan keputusan tentang di mana ia harus tetap berada. Proses lambat yang sama yang menarik kalian saling menjauh bisa dijalankan terbalik. Cuma harus dilakukan dengan sengaja, sebab tidak ada satu pun hal dari hidup modern yang akan melakukannya untukmu.

Tulisan ini tentang cara memulainya.

Kenapa kedekatan memudar padahal tak ada yang bertengkar

Salah satu yang membuat menjauh begitu membingungkan adalah biasanya tidak ada hal dramatis yang salah. Tidak ada pengkhianatan, tidak ada ledakan, tidak ada alasan yang jelas. Jadi kamu terus mencari sebabnya dan tak menemukannya, dan itu membuatmu mudah mengira masalahnya adalah hubungannya itu sendiri, atau kamu, atau dia.

Padahal seringnya biang keroknya jauh lebih membosankan. Hubungan dibangun dari momen-momen perhatian yang kecil dan berulang, dan ketika momen-momen itu berhenti, hubungan diam-diam kelaparan.

Psikolog John Gottman menghabiskan puluhan tahun mengamati pasangan di sebuah apartemen riset, dan salah satu temuannya yang paling sering dikutip adalah tentang sesuatu yang ia sebut "ajakan" untuk terhubung. Ajakan adalah gerakan kecil apa pun ke arah orang lain. Komentar soal cuaca. Video lucu yang diangkat untuk ditunjukkan padamu. Helaan napas yang sebenarnya menanyakan bagaimana harimu. Tiap ajakan adalah pertanyaan mungil: apakah kamu ada untukku? Kamu entah berpaling ke arahnya, dengan menanggapi penuh kehangatan atau perhatian, atau berpaling menjauh, dengan mengabaikannya atau menampiknya.

Inilah bagian yang mencolok. Dalam riset Gottman, pasangan yang masih bersama dan bahagia bertahun-tahun kemudian telah berpaling ke arah ajakan satu sama lain sekitar 86 persen waktu. Pasangan yang berpisah cuma berhasil sekitar sepertiga waktu. Pembedanya bukan romansa megah. Melainkan apakah mereka memperhatikan hal-hal kecil dan hadir untuknya.

Itulah sebenarnya menjauh. Bukan keretakan tiba-tiba, melainkan ribuan palingan kecil yang tak satu pun diperhatikan saat itu. Ponsel saat makan malam. "Nanti aku cerita" yang tak pernah jadi nanti. Ajakan yang dilepas ke udara tanpa ada yang menangkapnya. Tumpuk cukup banyak dari itu dan dua orang yang saling mencintai bisa berakhir menjalani hidup paralel, secara teknis dekat, padahal sebenarnya sendirian.

Sisi yang melegakan: kalau jaraknya dibangun dari momen-momen kecil yang terlewat, ia bisa ditutup dengan momen-momen yang tertangkap. Kamu tidak butuh reuni dramatis. Kamu butuh pola yang berbeda, mulai sekarang.

Gaya-gaya biasa yang menarik orang saling menjauh

Akan membantu kalau kita menyebut apa yang sebenarnya kamu lawan, karena menjauh biasanya bukan salah siapa-siapa. Hidup menata dirinya sendiri untuk melawan kedekatan, dan ia melakukannya secara diam-diam.

Pikirkan apa yang mengisi satu minggu biasa. Pekerjaan yang merembes ke malam hari. Anak, atau orang tua yang menua, atau keduanya sekaligus. Seratus urusan menjalankan hidup, janji-janji temu dan cucian dan tagihan, yang menggusur percakapan yang tidak benar-benar mendesak. Layar yang selalu dalam jangkauan dan selalu sedikit lebih tanpa hambatan dibanding orang di sebelahmu. Tak satu pun dari ini bermusuhan dengan hubunganmu. Mereka cuma lebih nyaring darinya, dan yang lebih nyaring biasanya menang.

Babak-babak kehidupan juga melakukan ini. Orang tua baru menjauh karena mereka kelelahan dan menjatah setiap remah tenaga. Teman lama menjauh karena seseorang pindah, atau punya anak, atau ganti pekerjaan, dan irama mudah yang menyatukan kalian retak dan tak pernah dibangun ulang. Pernikahan panjang menjauh di tahun-tahun sarang kosong, ketika proyek bersama yang menata hari-hari kalian tiba-tiba lulus dan meninggalkan kalian saling memandang sambil bertanya-tanya sekarang mau ngobrolin apa.

Melihat gaya itu sebagai hal yang biasa mengangkat rasa perihnya. Kamu tidak ceroboh dan dia tidak berhenti menyayangimu. Kalian berdua jadi sibuk, dan sibuk itu mengikis hubungan dengan cara yang tak diperingatkan siapa pun padamu. Cara pandang ulang itu penting karena ia mengubah percakapan di kepalamu dari "apa yang salah dengan kita" jadi "apa yang ingin kita lindungi dari segala hal lain." Pertanyaan kedua itu bisa kamu tindaklanjuti.

Mulai lebih kecil daripada yang terasa berarti

Saat orang memutuskan untuk menyambung kembali, mereka sering meraih gerakan besar. Obrolan mendalam. Liburan akhir pekan. Surat panjang yang menyebut segala yang salah. Kadang itu membantu. Lebih sering ia ambruk oleh bobotnya sendiri, sebab dua orang yang sudah menjauh belum punya pijakan untuk percakapan yang berat, dan satu usaha besar pun toh tak bisa membatalkan berbulan-bulan ketidakhadiran kecil.

Ambil arah sebaliknya. Mulai begitu kecil sampai hampir terasa tidak berarti.

  • Kirim pesan yang terus hampir kamu kirim. Bukan pidato kenegaraan. Cukup "tadi aku ingat kamu" atau "ini bikin aku ketawa, jadi ingat kamu." Risiko rendah, tanpa agenda.
  • Hidupkan kembali satu ritual mungil. Kopi pagi bersama. Jalan-jalan setelah makan malam. Telepon hari Minggu. Ritual bekerja diam-diam karena ia tidak bergantung pada siapa pun merasa terinspirasi saat itu.
  • Tangkap satu ajakan sehari. Cukup perhatikan saat orangnya membuat gerakan kecil ke arahmu, lalu berpaling ke arahnya. Angkat wajahmu. Taruh ponselnya. Ajukan pertanyaan lanjutan. Satu sehari menumpuk lebih cepat dari yang kamu kira.
  • Beri apresiasi yang spesifik. Bukan "kamu hebat," yang cuma melorot lewat. Sesuatu yang persis: "Aku perhatikan kamu menghadapi telepon dari ibumu itu dengan sabar banget." Yang spesifik itulah yang sampai.

Inti dari mulai kecil bukanlah kerendahan hati. Itu fisika. Kedekatan adalah kebiasaan, dan kebiasaan dibangun ulang lewat pengulangan, bukan kedahsyatan. Menyapa tulus selama dua menit tiap hari akan lebih berhasil daripada satu malam penuh perasaan setiap beberapa bulan. Kamu tidak sedang berusaha memperbaikinya malam ini. Kamu sedang berusaha mengubah kemiringannya.

Jadilah penasaran alih-alih merasa sudah tahu

Ada jebakan yang menjerat hampir semua orang yang sudah menjauh dari seseorang yang dulu dekat. Kamu mengira kamu masih mengenalnya. Kamu membawa-bawa gambaran mental tentang siapa dia terakhir kali kalian benar-benar sefrekuensi, dan kamu berhubungan dengan gambaran itu, bukan dengan orang yang sebenarnya ada di depanmu.

Padahal orang berubah selama waktu kamu tidak memperhatikan. Mereka memungut kekhawatiran baru, minat baru, pandangan baru, cara baru memandang dirinya. Orang di seberangmu sekarang bukan persis orang yang dulu menjauh darimu. Itu bisa terasa seperti kehilangan. Itu juga sebuah celah terbuka.

Perlakukan dia seperti seseorang yang sungguh layak dikenal lagi, sebab memang begitu. Ajukan pertanyaan yang sungguhan dan benar-benar tunggu jawabannya. Apa yang akhir-akhir ini ada di pikiranmu? Lagi suka apa belakangan yang aku belum tahu? Apa yang berat tahun ini? Rasa penasaran melakukan dua hal sekaligus. Ia memberimu informasi yang akurat tentang siapa orang ini sekarang, dan ia mengirim sinyal yang jelas: kamu cukup berarti sampai aku ingin mengenalmu, kamu yang sekarang, bukan kenangan.

Ada versi yang lebih senyap dari ini yang berhasil bahkan ketika kata-kata terasa terlalu banyak. Lakukan sesuatu bersama yang dulu biasa kalian lakukan, atau sesuatu yang belum pernah kalian coba. Kegiatan bersama memikul banyak beban yang tak bisa dipikul percakapan. Masak makanannya, ajak berkendara, mulai proyeknya, datangi acaranya. Orang sering mendapati bahwa obrolan yang tak bisa mereka paksakan terjadi dengan sendirinya begitu tangan mereka sibuk dan tekanan saling menatap lenyap. Kamu sedang membangun kembali pengalaman sederhana menjadi satu tim, dan pengalaman itulah bahan dasar kedekatan.

Saat kamu memang butuh obrolan yang lebih besar

Kadang momen-momen kecil tidak cukup, karena ada sesuatu yang spesifik mengganjal di antara kalian. Luka lama yang tak pernah disebut. Dendam yang diam-diam berjalan di latar belakang. Perbedaan nyata yang kamu hindari karena menyebutnya terasa berisiko. Menghindar terasa lebih aman dalam jangka pendek, dan biasanya justru itulah yang melebarkan jaraknya seiring waktu.

Kalau ada percakapan yang selama ini kamu kelit, beberapa hal membuatnya berjalan lebih baik.

Pilih saat ketika kalian berdua cukup tenang dan tidak sedang terburu-buru mau keluar pintu. Bicaralah dari pengalamanmu sendiri alih-alih dari dakwaan. "Akhir-akhir ini aku merasa jauh darimu dan aku kangen" membuka pintu. "Kamu nggak pernah meluangkan waktu buat aku" membantingnya. Yang pertama mengundangnya masuk. Yang kedua membuatnya membela diri, dan orang yang membela diri tidak menyambung kembali.

Lalu lakukan separuh yang lebih sulit: dengarkan apa yang dikembalikan tanpa buru-buru memperbaikinya atau membela dirimu. Mungkin kamu mendengar bahwa dia juga merasakan jaraknya, mungkin lebih lama darimu. Itu bukan tuduhan. Itu hal yang sama-sama kalian tunggu untuk diucapkan dengan suara. Sering kali sekadar jujur soal saling merindukan itulah penyambungan kembalinya. Obrolan itu bukan rintangan sebelum kedekatan. Ia adalah kedekatan, yang sedang tiba.

Kenapa ini sepadan dengan usahanya

Gampang membiarkan menjauh terus berlanjut. Mengulurkan tangan kembali butuh nyali, dan toh hubungannya jalan tertatih-tatih tanpa itu pun cukup. Tapi hubungan yang dekat bukan kemewahan yang ditumpuk di atas hidup yang sehat. Ia bagian dari fondasinya.

Riset di sini sulit dikesampingkan. Menurut CDC, hubungan sosial yang kuat terkait dengan risiko penyakit serius yang lebih rendah, termasuk penyakit jantung, stroke, dan depresi, dan orang dengan ikatan yang lebih kuat cenderung hidup lebih panjang dan lebih sehat. Hubungan bukan cuma baik untuk hati dalam arti puitis. Ia baik untuk jantung dalam arti harfiah. Orang-orang yang kamu rasa dekat sedang melakukan kerja nyata bagi kesehatan dan kemantapanmu, sering tanpa kalian berdua menyadarinya.

Itulah kenapa menjauh layak diputus sebelum mengeras jadi permanen. Kebanyakan hubungan yang orang sesali kehilangannya tidak berakhir dalam pertengkaran. Ia berakhir dalam keheningan, dalam serangkaian palingan kecil menjauh yang tak ada yang sengaja dan tak ada yang menghentikannya.

Kapan harus mencari lebih banyak bantuan

Kebanyakan menjauh yang biasa menanggapi usaha yang biasa pula: momen-momen kecil, kata-kata jujur, sedikit kesabaran terhadap satu sama lain dan diri sendiri. Sebagian situasi menuntut lebih dari itu, dan menyadarinya adalah kekuatan, bukan kegagalan.

Kalau percakapan menyakitkan yang sama terus terjadi tanpa pergerakan, terapis pasangan bisa membantumu menemukan pola di bawahnya dan mencoba sesuatu yang baru. Kalau mengulurkan tangan menabrak tembok penghinaan, sikap membatu, atau tetesan ajek rasa makin mengecil saat dekat orang ini, itu layak diseriusi, dan seorang profesional bisa membantumu memilah apa yang bisa diperbaiki dan apa yang tidak. Dan kalau jarak yang kamu rasakan adalah bagian dari keberatan yang lebih luas, di mana sebagian besar hal terasa datar atau jauh dan menyambung kembali terasa mustahil untuk dikumpulkan tenaganya, itu bisa jadi tanda depresi alih-alih masalah hubungan, dan itu layak dibicarakan dengan dokter atau psikolog tentang dirimu, bukan cuma tentang hubungannya.

Mengulurkan tangan kembali ke arah seseorang adalah hal yang diam-diam berani. Kamu tidak bisa mengatur apakah dia akan mengulurkan tangan kembali. Kamu bisa menawarkan ajakannya, hari ini, dan melihat siapa yang berpaling ke arahnya. Sering kali itulah yang dibutuhkan untuk memulai.

Sumber

Sebelum kamu pergi, sepatah kata soal perawatan

KEEP CALM menyediakan alat bantu diri edukatif yang gratis. Ini bukan nasihat medis, diagnosis, atau terapi, dan bukan pengganti perawatan profesional. Jika ada sesuatu di sini yang terasa lebih dari sekadar stres sehari-hari, menghubungi profesional adalah langkah yang kuat dan masuk akal.

If you are in crisis or thinking about harming yourself, you are not alone. In the US, call or text 988 (Suicide & Crisis Lifeline, 24/7), text HOME to 741741 (Crisis Text Line), or call 911 in an emergency.