Tips singkat
- Dengarkan keinginan di dalam keluhan.
- Minta jeda, lalu berjanji untuk kembali.
- Namai luka yang sebenarnya begitu kamu tenang.
Kamu berdiri di dapur dan pertengkarannya soal bak cuci penuh piring. Atau pesan yang tak terbalas selama enam jam. Atau siapa yang seharusnya menelepon tukang ledeng. Lima menit berlalu, kalian berdua lebih keras dari yang bisa dibenarkan oleh piring, dan sebagian dirimu yang tenang tahu itu. Kamu pernah punya pertengkaran yang persis ini sebelumnya. Kamu mungkin akan punya lagi bulan depan, dengan baju yang berbeda.
Saat hal kecil meledak jadi hal besar, biasanya itu tanda bahwa hal kecilnya tak pernah jadi hal yang sebenarnya. Di bawah piring ada pertanyaan yang tak ada hubungannya dengan piring. Apakah kamu melihat betapa banyak yang kupikul? Apakah aku berarti untukmu? Apakah aku sendirian dalam ini? Pertanyaan-pertanyaan itu jarang diucapkan keras-keras. Mereka diselundupkan masuk, menyamar sebagai keluhan soal pekerjaan rumah, karena keluhannya terasa lebih aman daripada pertanyaannya.
Belajar mendengar pertanyaan di bawah keluhan mengubah segalanya tentang bagaimana sebuah pertengkaran berjalan. Bukan karena ia membuat konflik lenyap. Karena ia membiarkanmu merespons apa yang sebenarnya menyakitkan alih-alih menebas umpan.
Dua jenis pertengkaran, dan kenapa salah satunya takkan tetap terpecahkan
Para peneliti hubungan John dan Julie Gottman, yang sudah puluhan tahun mempelajari pasangan di laboratorium, menarik garis antara dua tipe konflik. Sebagian masalah bisa dipecahkan. Mereka soal situasi tertentu, dan percakapan yang baik menghasilkan solusi yang bertahan: kita akan membagi tagihan dengan cara ini, kita akan menangani mertua dengan cara itu. Kamu memecahkannya dan ia tetap terpecahkan.
Lalu ada yang lain. Keluarga Gottman menyebutnya masalah abadi, dan inilah bagian yang mengejutkan orang: menurut hitungan mereka, sekitar 69 persen konflik berkelanjutan sebuah pasangan bersifat abadi. Ini adalah ketaksepakatan yang berakar pada siapa kalian masing-masing secara mendasar. Yang satu butuh lebih banyak kedekatan, yang lain butuh lebih banyak ruang. Yang satu selalu datang awal, yang lain selalu terlambat. Yang satu berbelanja untuk merasa aman, yang lain menabung untuk merasa aman. Kamu takkan memecahkan ini, karena tak ada yang rusak untuk diperbaiki. Mereka adalah gesekan dua manusia utuh yang berbagi satu hidup.
Angka itu layak direnungkan sejenak. Kalau sebagian besar yang kamu pertengkarkan tak bisa diselesaikan secara permanen, maka "memenangkan" pertengkaran memang tak pernah jadi tujuannya. Keluarga Gottman menemukan bahwa yang sebenarnya membedakan pasangan yang berhasil dari yang tidak bukanlah apakah mereka memecahkan masalah ini. Tapi apakah mereka bisa terus membicarakannya tanpa percakapannya berubah jadi asam. Kebalikan dari itu adalah kebuntuan total, tempat di mana pertengkaran yang sama mengeras, tiap orang menggali parit, dan bicaranya berhenti terasa seperti bisa mengarah ke mana pun.
Jadi kalau kamu terus punya pertengkaran yang sama, kamu tidak sedang gagal. Kamu cuma menemukan salah satu yang abadi milikmu. Pekerjaannya bukan mengalahkannya. Pekerjaannya adalah belajar cara berada di sisi yang sama dengannya.
Apa yang bersembunyi di bawah keluhan permukaan
Pikirkan sebuah pertengkaran yang baru terjadi sebagai punya dua lapisan. Ada isinya, yaitu apa pun yang dibicarakan kata-katanya. Dan ada maknanya, yaitu apa yang dirasakan pertengkaran itu pada masing-masing kalian tentang diri kalian dan tentang satu sama lain. Pertengkarannya membesar saat kamu memperdebatkan isinya dan mengabaikan maknanya.
Sebagian besar makna yang sebenarnya tinggal di segelintir tempat. Lihat apakah ada di antara ini yang terasa familier dari pertengkaranmu sendiri:
- Ajakan untuk perhatian yang terlewat. "Kamu selalu di ponselmu" jarang soal ponselnya. Itu seseorang yang berkata aku ingin merasa dipilih dan aku tidak.
- Luka lama yang tertekan. Kalau seorang pasangan tumbuh dengan merasa tak terlihat, sebuah rencana yang dilupakan mendarat jauh lebih keras dari yang pantas didapat rencana itu. Reaksinya seukuran luka lamanya, bukan peristiwa barunya.
- Sebuah nilai atau kebutuhan yang tak terlihat. Pertengkaran soal uang terkenal bukan soal uang. Mereka soal rasa aman, kebebasan, keadilan, apa yang diajarkan pada masing-masing kalian tentang seperti apa seharusnya hidup yang baik.
- Permintaan perbaikan yang keluar serong. Kadang sebuah pertengkaran sebenarnya upaya untuk berkata aku masih terluka soal yang kemarin dan kita tak pernah menyelesaikannya.
Perhatikan bahwa tak satu pun dari ini bisa dipecahkan dalam pengertian pekerjaan rumah. Kamu tak bisa memperbaiki "aku ingin merasa dipilih" dengan mencuci piring lebih cepat. Tapi kamu bisa mendengarnya. Dan didengar sering kali memang hal yang dijangkau orang itu selama ini.
Kenapa ia begitu cepat berubah jadi adu teriak
Ada alasan fisik kenapa pertengkaran ini berputar melampaui topiknya, dan itu bukan cacat karakter pada salah satu dari kalian. Saat konflik jadi cukup intens, tubuh membanjir. Para peneliti yang mempelajari pasangan menggambarkan emotional flooding sebagai keadaan kewalahan di mana gejolak naik begitu tinggi sampai pikiran jernih lumpuh. Dalam keadaan itu, kamu mulai membaca tiap gerakan pasanganmu dengan cara yang seburuk mungkin, dan kapasitasmu untuk benar-benar memecahkan apa pun menghilang.
Flooded adalah kondisi yang buruk untuk bernegosiasi. Jantungmu berdebar, penalaranmu menyempit jadi pertahanan dan serangan balik, dan di suatu tempat di situ piring aslinya sudah lenyap sepenuhnya. Inilah kenapa "ayo selesaikan saja sekarang" begitu sering memperburuk keadaan. Kamu tak bisa menjangkau hal lembut yang sebenarnya di bawah pertengkaran saat tubuh kalian berdua yakin sedang terancam.
Gerakan di sini lebih rendah hati daripada menyelesaikan apa pun. Saat kamu merasa dirimu mulai flooded, gerakan yang baik adalah meminta jeda, bukan memaksa terus. "Aku ingin terus membicarakan ini, tapi aku butuh dua puluh menit dulu." Lalu benar-benar ambil jeda itu, dan benar-benar kembali. Jeda tanpa kembali cuma penelantaran dengan tata krama yang lebih baik. Jeda dengan janji untuk kembali adalah salah satu hal paling penuh kasih yang bisa kamu lakukan di tengah pertengkaran.
Cara menemukan hal yang sebenarnya, di saat itu juga
Kamu tak perlu jadi terapis untuk melakukan ini. Kamu butuh beberapa pertanyaan jujur dan kerelaan untuk menanyakannya saat kamu lebih ingin sekadar menjadi benar.
- Tanyakan pada dirimu apa yang sebenarnya kamu rasakan, di bawah kemarahan. Kemarahan biasanya pengawal. Di belakangnya sering ada luka, ketakutan, atau kesepian. "Aku marah kamu lupa" sering kali "aku merasa tak penting." Namai itu pada dirimu lebih dulu. Ia melembutkan caramu mengatakan hal berikutnya.
- Katakan perasaannya, bukan vonisnya. "Kamu tak pernah memikirkanku" adalah vonis, dan ia mengundang pembelaan. "Aku merasa sendirian malam ini" adalah perasaan, dan ia mengundang uluran tangan. Keluarga Gottman menyebut cara mengangkat sesuatu yang lembut dan tanpa menyalahkan sebagai soft start, dan soft start adalah pemrediksi tunggal terbaik tentang bagaimana seluruh percakapan akan berjalan.
- Jadilah penasaran terhadap sisi bawah mereka juga. Saat pasanganmu bereaksi berlebihan terhadap sesuatu yang kecil, itu isyaratmu bahwa kamu sudah menginjak sesuatu yang lebih penting dari kelihatannya. Alih-alih "kenapa kamu membesar-besarkan ini," coba "ini sepertinya berarti banyak buatmu, bantu aku memahaminya." Pertanyaan itu bisa meredakan pertengkaran dalam satu kalimat.
- Dengarkan keinginan di dalam keluhan. Hampir setiap keluhan mengandung kerinduan yang tersembunyi. "Kamu tak pernah di rumah" menginginkan lebih banyak dirimu. "Kamu tak membantu" ingin tak merasa sendirian dalam beban. Kalau kamu bisa menjawab keinginannya, keluhannya cenderung larut.
American Psychological Association, merangkum riset tentang apa yang menjaga pasangan tetap sehat, mendarat di tempat yang serupa: ketaksepakatan itu normal dan bukan tanda hubungan yang buruk, tapi cara kamu bertengkar sangat penting. Mendengarkan sudut pandang pasanganmu dan berusaha memahami perasaan mereka adalah jalan yang membangun. Penghinaan, membungkam, dan menyerang titik terlemah adalah yang merusak. Bedanya bukan apakah kamu bertengkar. Tapi apakah, di tengah pertengkaran, kalian tetap jadi orang-orang yang berusaha memahami satu sama lain.
Perbaikan lebih penting daripada pertengkarannya
Inilah hal yang tak ada yang memberitahumu saat kamu muda: tujuannya tak pernah berhenti bertengkar. Pasangan yang bertahan jauh tetap bertengkar. Yang mereka lebih jago adalah perbaikan, gerakan-gerakan kecil yang menarik dua orang kembali ke arah satu sama lain setelah keretakan. Upaya perbaikan bisa berupa lelucon yang memecah ketegangan, tangan di bahu, suara yang lebih lembut, atau "aku tak suka arah ini" yang sederhana. Ia tak harus anggun. Ia cuma harus jadi sinyal yang berkata aku masih menginginkan kita, bahkan sekarang, bahkan saat marah.
Yang membuat sebuah perbaikan mendarat adalah apakah orang lain mengulurkan kembali. Kamu bisa menawarkan ranting zaitun dengan sempurna dan ia diabaikan, dan itu menyakitkan. Jadi bagian ini menuntut kalian berdua. Saat pasanganmu membuat upaya canggung untuk melembutkan keadaan, lelucon garing atau setengah permintaan maaf itu lebih berharga dari kelihatannya. Menerima sebuah perbaikan yang menurutmu tak cukup baik adalah tindakan cinta tersendiri.
Separuh lainnya adalah apa yang terjadi setelah panasnya hilang. Jangan biarkan pertengkaran yang nyata begitu saja menguap tanpa pernah menamai apa yang sebenarnya. Sehari atau dua hari kemudian, saat kalian berdua tenang, layak untuk kembali ke sana. Bukan untuk mengadili ulang siapa yang benar. Tapi untuk mengatakan bagian yang sunyi: "Kurasa aku jadi begitu kesal karena aku merasa melakukan semuanya sendirian." Kalimat itu, diucapkan di masa damai, adalah yang sebenarnya menggerakkan masalah abadi. Itu yang tak bisa kamu jangkau saat kamu flooded. Banyak pasangan tak pernah mengucapkannya karena kelegaan dari berakhirnya pertengkaran sudah terasa cukup. Ia tak cukup, sebenarnya. Berakhirnya pertengkaran menghentikan pendarahan. Percakapan setelahnya yang menutup luka.
Beberapa hal yang membantu sebuah perbaikan menempel:
- Mulai dengan bagianmu sendiri. "Aku tadi kasar, dan aku minta maaf" melucuti hampir semua orang. Ia tak menghabiskan apa pun yang tak sanggup kamu keluarkan.
- Jangan menuntut permintaan maafnya dibalas di tempat. Tawarkan punyamu dan biarkan punya mereka datang pada waktunya sendiri.
- Namai hal yang mendasarinya begitu kamu tenang, dengan lembut, sebagai informasi tentang dirimu alih-alih tuduhan tentang mereka.
- Putuskan bersama, keras-keras, bahwa masalahnyalah masalahnya, bukan satu sama lain. Dua orang melawan satu masalah mengalahkan dua orang yang saling melawan setiap saat.
Saat pertengkaran yang sama tak mau berakhir
Sebagian masalah abadi bisa dijalani begitu kamu bisa membicarakannya dengan baik. Yang lain duduk di atas sebuah mimpi atau kebutuhan yang begitu penting sampai kebuntuannya tak mau bergeser tak peduli selembut apa awalanmu. Itu layak diketahui alih-alih bertahan dengan menggertakkan gigi. Kalau kamu sudah punya pertengkaran yang identik bertahun-tahun, kalau ia membuat salah satu atau kalian berdua merasa kecil, atau kalau percakapannya tak bisa lagi terjadi tanpa berubah jadi kejam, itu bukan tanda kamu rusak. Itu tanda kalian berdua sudah menabrak sesuatu yang lebih besar dari yang bisa ditampung percakapan dapur.
Seorang terapis pasangan bukan pilihan terakhir atau pengakuan kegagalan. Mereka adalah seseorang yang terlatih untuk membantumu menemukan hal di bawah hal saat kamu terlalu dekat untuk melihatnya sendiri, dan untuk menjaga kalian berdua cukup tenang untuk benar-benar bicara. Banyak orang yang saling mencintai sampai pada titik ini. Meminta bantuan adalah yang dilakukan orang yang berniat tetap bersama.
Dan kalau pertengkarannya sampai berhenti terasa seperti konflik dan mulai terasa seperti kamu tidak aman, itu percakapan yang berbeda, dan ia bukan yang harus dikelola sendirian. Hubungi seseorang yang kamu percaya atau seorang profesional yang bisa membantumu memikirkannya.
Lain kali piring meledak entah dari mana, coba tetap penasaran satu detik lebih lama. Piring itu berisik, tapi mereka jarang jadi intinya. Intinya biasanya lebih sunyi, berdiri tepat di belakang mereka, berharap kamu akan menyadari ia ada di sana.
Sumber
- The Gottman Institute, Managing Conflict: Solvable vs. Perpetual Problems
- American Psychological Association, Happy Couples: How to Keep Your Relationship Healthy
- National Center for Biotechnology Information, Breaking the cycle of emotional flooding in couple's conflict